sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Isu Desil Jadi Polemik, BPS Sebut DTSEN Tetap Valid

Economics editor Rohman Wibowo
28/08/2026 18:25 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) menepis anggapan bahwa Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak valid menyusul penyesuaian ulang klasifikasi desil.
BPS menepis anggapan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak valid menyusul penyesuaian klasifikasi desil. (Foto: iNews Media/Rohman Wibowo)
BPS menepis anggapan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak valid menyusul penyesuaian klasifikasi desil. (Foto: iNews Media/Rohman Wibowo)

IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) menepis anggapan bahwa Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) tidak valid menyusul penyesuaian ulang klasifikasi desil yang menjadi polemik di tengah masyarakat. Kondisi tersebut terutama adanya sebagian masyarakat yang naik ke desil tertinggi, yakni 9 dan 10

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan,  pergeseran status pada kelompok desil, termasuk di desil 9 dan 10 merupakan konsekuensi logis dari pemutakhiran berkala atas data sosial ekonomi yang bersifat dinamis agar tetap selaras dengan kondisi riil di lapangan.

Dia juga menepis tudingan adanya masalah validitas dalam basis data DTSEN di tengah polemik ketidaksesuaian tingkat ekonomi warga dengan pengelompokan desil. Dia menjelaskan soal penyesuaian kembali kategori desil merupakan hasil dari proses verifikasi faktual yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat bersama petugas sensus.

"Enggak, bukan begitu, bukan datanya tidak valid. Semua data itu dinamis, sehingga masyarakat dan pemerintah perlu berkolaborasi bersama untuk melakukan pemutakhiran, dan sensus (ekonomi) menjadi salah satu upaya kita untuk memutakhirkan kondisi masyarakat dan usaha terkini," ujar Amalia saat ditemui di kompleks Widya Chandra, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Polemik klasifikasi desil dalam DTSEN sebelumnya mencuat setelah ditemukan sejumlah ketidakcocokan antara profil kesejahteraan riil masyarakat dengan penetapan status desil, khususnya pada kelompok desil 9 dan 10 yang merepresentasikan strata ekonomi teratas. Penataan ulang data tersebut dilakukan diklaim untuk memastikan profil penerima manfaat kebijakan pemerintah tidak mengalami distorsi di lapangan.

Proses pendampingan langsung oleh jajaran BPS kepada warga diklaim mampu mengoreksi ketidaksesuaian data administratif sehingga menghasilkan potret sosial ekonomi yang akurat. 

Amalia menggarisbawahi bahwa keterbukaan masyarakat dalam memperbarui informasi menjadi kunci utama dalam menjaga keandalan basis data tunggal nasional.

"Data itu dinamis, dan setelah kami lakukan pemutakhiran dengan pendampingan BPS serta kerja sama masyarakat yang kooperatif, terbukti datanya sesuai dengan fakta di lapangan. Kuncinya pemutakhiran data itu sangat penting supaya selalu mencerminkan kondisi terkini masyarakat," tuturnya.

(Rahmat Fiansyah)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement