IDXChannel - Jepang mengaku kesulitan untuk menghentikan impor minyak dan gas dari Rusia.
“Pemerintah Jepang menyadari bahwa mengamankan energi dari luar negeri, termasuk Proyek Sakhalin, sangat penting bagi ketahanan energi Jepang,” kata Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dalam pernyataannya, dilansir dari Oilprice pada Minggu (30/11/2025).
“Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa pasokan energi Jepang yang stabil tidak terganggu,” katanya.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang menanggapi pertanyaan Reuters mengenai sanksi terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Rosneft, produsen minyak terbesar Rusia dan pemegang saham dalam proyek Sakhalin-1.
Proyek ini dulunya dioperasikan oleh Exxon, tetapi perusahaan minyak raksasa tersebut meninggalkan Rusia pada 2022.
Rosneft memiliki 20 persen saham di Sakhalin-1, ONGC Videsh dari India memegang 20 persen lainnya, dan sebuah konsorsium Jepang yang terdiri dari Kementerian Perekonomian dan beberapa perusahaan energi Jepang memegang 30 persen.
Ketika rentetan sanksi terhadap Rusia dimulai setelah invasinya ke Ukraina, perusahaan-perusahaan Jepang dan Kementerian Perekonomian diberikan pengecualian dari tindakan hukuman tersebut karena ketergantungan negara tersebut yang sangat besar pada komoditas energi asing.
Selain Sakhalin-1, yang mengekspor minyak mentah ke Jepang, negara tersebut juga membeli gas alam cair dari proyek Sakhalin-2. LNG Rusia menyumbang sekitar sembilan persen dari total impor gas alam cair Jepang. (Wahyu Dwi Anggoro)