AALI
9900
ABBA
400
ABDA
0
ABMM
1455
ACES
1240
ACST
234
ACST-R
0
ADES
2890
ADHI
1020
ADMF
7725
ADMG
197
ADRO
1810
AGAR
340
AGII
1510
AGRO
2010
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
67
AIMS
460
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
950
AKRA
4170
AKSI
426
ALDO
1075
ALKA
238
ALMI
246
ALTO
270
Market Watch
Last updated : 2021/12/02 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
506.94
1.75%
+8.74
IHSG
6567.96
0.93%
+60.29
LQ45
946.70
1.63%
+15.16
HSI
23695.09
0.15%
+36.17
N225
27778.71
-0.56%
-156.91
NYSE
16133.89
-1.13%
-185.08
Kurs
HKD/IDR 1,841
USD/IDR 14,365
Emas
822,218 / gram

Kasus Covid-19 Dunia Kembali Melonjak, The Fed Diharapkan Tahan Suku Bunga hingga 2023

ECONOMICS
Kunthi Fahmar Sandy
Jum'at, 26 November 2021 10:30 WIB
Sikap The Fed tetap menjadi kunci apakah risiko inflasi, lonjakan harga energi dan gelombang virus musim dingin baru akan menggagalkan aset berisiko.
Kasus Covid-19 Dunia Kembali Melonjak, The Fed Diharapkan Tahan Suku Bunga hingga 2023 (FOTO:MNC Media)
Kasus Covid-19 Dunia Kembali Melonjak, The Fed Diharapkan Tahan Suku Bunga hingga 2023 (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Kasus virus baru mengakibatkan lockdown ketat yang menekan konsumsi. Sentimen juga kemungkinan telah dirusak oleh beberapa pengumuman peraturan baru-baru ini yang mencakup sektor-sektor yang beragam seperti uang sekolah, game, penyimpanan data dan pembayaran. 

"Namun, kami mengekspektasi tidak mungkin ekonomi China akan mengalami penurunan besar yang akan memukul aset berisiko secara global," kata Eli Lee Head of Investment Strategy,Bank of Singapore, Jumat (26/11/2021). 

Keberhasilan pihak berwenang dalam membatasi wabah virus baru telah mengakibatkan dicabutnya lockdown. PBoC kemungkinan akan menindaklanjuti pemangkasan di bulan Juli dalam rasio persyaratan cadangan bank (RRR) dengan langkah lebih lanjut untuk membebaskan likuiditas jika aktivitas di China terus melunak. 

Selain perlambatan China, sikap The Fed tetap menjadi kunci apakah risiko inflasi, lonjakan harga energi dan gelombang virus musim dingin baru akan menggagalkan aset berisiko. 

"Kami berharap The Fed tetap dovish dan hanya akan berubah hawkish jika kemacetan pasokan dan inflasi tidak mereda dari musim semi 2022 

(antara Maret dan Juni tahun depan). Kami mempertahankan pandangan kami bahwa The Fed akan menunggu sampai 2023 - sementara pasar tenaga kerja terus pulih - sebelum menaikkan suku bunga," jelasnya.

(SANDY)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD