AALI
9925
ABBA
296
ABDA
6550
ABMM
1400
ACES
1290
ACST
194
ACST-R
0
ADES
3400
ADHI
835
ADMF
7625
ADMG
185
ADRO
2290
AGAR
364
AGII
1405
AGRO
1260
AGRO-R
0
AGRS
159
AHAP
70
AIMS
362
AIMS-W
0
AISA
176
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1125
AKRA
800
AKSI
705
ALDO
1320
ALKA
310
ALMI
0
ALTO
258
Market Watch
Last updated : 2022/01/24 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
508.22
-1.07%
-5.50
IHSG
6671.75
-0.81%
-54.62
LQ45
949.94
-1.02%
-9.83
HSI
24758.92
-0.83%
-206.63
N225
27324.43
-0.72%
-197.83
NYSE
16397.34
-1.6%
-266.43
Kurs
HKD/IDR 1,840
USD/IDR 14,343
Emas
845,552 / gram

Kinerja Ekspor Naik 47,64 Persen, Sektor Logistik Diprediksi Segera Pulih

ECONOMICS
Arif Budianto/Kontributor
Rabu, 27 Oktober 2021 10:28 WIB
Meningkatnya kinerja ekspor yang mencapai 57,64 persen (YoY) diprediksi akan mampu memulihkan sektor logistik nasional.
Kinerja Ekspor Naik 47,64 Persen, Sektor Logistik Diprediksi Segera Pulih. (Foto: MNC Media)
Kinerja Ekspor Naik 47,64 Persen, Sektor Logistik Diprediksi Segera Pulih. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Meningkatnya kinerja ekspor yang mencapai 57,64 persen (YoY) diprediksi akan mampu memulihkan sektor logistik nasional. Tidak hanya itu, peningkatan serupa juga terjadi pada nilai impor yang naik 40,31 persen hingga September 2021.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor meningkat berturut-turut antara Mei hingga Agustus 2021 walaupun turun pada September 2021 sebesar 3,84 persen (m-to-m). Pada periode itu, nilai impor juga turun sebesar 2,67 persen. 

Tercatat nilai ekspor sebesar USD20,60 miliar dan nilai impor sebesar USD16,23 miliar pada September 2021. Sementara pada periode Januari-September 2021, nilai ekspor total Indonesia sebesar USD164,29 miliar yang disumbang ekspor nonmigas sebanyak 94,63 persen dengan kontribusi terbesar dari industri pengolahan (77,73 persen), diikuti pertambangan (15,08 persen) serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (1,82 persen). 

Pada periode itu, nilai impor total sebesar USD139,22 miliar dengan sumbangan terbesar dari bahan baku/penolong (75,50 persen) diikuti barang modal (14,37 persen) dan konsumsi (10,13 persen). 

"Melihat indikator itu, saya optimistis sektor logistik semakin cepat pulih. Beberapa faktor pendorong lainnya antara lain hasil pembangunan infrastruktur yang meningkatkan konektivitas serta perkembangan teknologi informasi termasuk digitalisasi, internet of things (IoT), dan blokchain," kata Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi. 

Secara khusus, merger Pelindo diharapkan juga berdampak signifikan terhadap peningkatan efisiensi sektor logistik Indonesia. Namun demikian, masih sangat diperlukan kolaborasi dan sinergi antar pelaku usaha dan pihak-pihak terkait dalam peningkatan efisiensi sektor logistik. 

"Tapi kolaborasi bisa dilakukan dalam berbagai bentuk termasuk pengembangan dan penggunaan shared facilities," imbuh dia. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD