sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Kinerja Industri Sawit Tetap Kinclong di Tengah Pandemi Covid-19

Economics editor Kunthi Fahmar Sandy
25/05/2021 12:31 WIB
Industri kelapa sawit masih menunjukkan kinerja yang positif hingga April 2021.
Kinerja Industri Sawit Tetap Kinclong di Tengah Pandemi Covid-19 (FOTO:MNC Media)
Kinerja Industri Sawit Tetap Kinclong di Tengah Pandemi Covid-19 (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Meski di tengah pandemi Covid-19, industri sawit nasional mampu membukukan kinerja positif dan berkontribusi pada perekonomian nasional. 

Pandemi Covid-19 masih berlangsung hingga saat ini. Dampaknya, perekonomian dunia mengalami kontraksi, dan Indonesia pun mengalami resesi. Namun saat ini pemulihan ekonomi Indonesia mulai terlihat. 

Tercatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2021 hanya sebesar minus 0,74%, lebih baik dibandingkan dengan triwulan-triwulan sebelumnya. 

Industri kelapa sawit masih menunjukkan kinerja yang positif hingga April 2021. Meski masih di tengah pandemi Covid-19, ekspor sawit Indonesia mampu meningkat tajam. 

Menurut catatan BPS, ekspor pada April 2021 mencapai USD 18,48 miliar atau tumbuh 52% dari periode yang sama tahun lalu USD 12,16 miliar. Berdasarkan catatan BPS, kinerja ekspor sawit April 2021 tercatat tumbuh tinggi dampak dari meningkatnya permintaan komoditas dan harga dari komoditas tersebut, terutama komoditas ekspor andalan Indonesia, yakni minyak kelapa sawit. 

Sementara spanjang 2020, industri sawit menjadi salah satu penopang dari surplusnya neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada 2020 mengalami surplus sebesar USD 21,74 miliar. 

Dari total surplus tersebut, ekspor produk kelapa sawit menyumbang nilai ekspor sebesar USD 22,97 miliar, atau meningkat sebesar 13,60% dibandingkan nilai ekspor pada 2019. 

Peningkatan nilai ekspor tersebut ditopang perbaikan harga crude palm oil (CPO) dan minyak nabati. Harga rata-rata CPO dan minyak nabati pada semester I/2020 mencapai sebesar USD646 per ton, lalu meningkat menjadi USD775 per ton pada semester II/2020. Mengalami peningkatan harga dibandingkan periode tahun sebelumnya, yakni harga rata-rata dari Januari-Agustus 2019 sebesar USD 524 per ton. 

Peningkatan permintaan sawit tak hanya dari ekspor melainkan pula domestik. Sepanjang 2020, konsumsi domestik meningkat 3,6% dibandingkan tahun sebelumnya, atau menjadi sebesar 17,35 juta ton. Peningkatan ini dikarenakan naiknya permintaan oleokimia untuk konsumsi sabun dan bahan pembersih, serta meningkatnya permintaan konsumsi untuk biodiesel terkait kebijakan B30. 

Deputi V Kemenko Perekonomian Musdalifah Machmud, mengamini industri sawit memiliki kekuatan menangkal imbas pandemi. Salah satu faktor penunjang kekuatan industri sawit, ungkapnya, adalah keunggulan komoditas tersebut yang dibutuhkan banyak manufaktur lainnya.  

Untuk lebih menguatkan akar industri sawit, pemerintah pun mendorong hilirisasi produk secara massif. 

“Tentang industri kita mendorong supaya investasi bukan hanya di hulu tetapi juga di hilir. Ini untuk menjaga daya saing produk kita. Kita harus perluas diversifikasi baik untuk jenis industri seperti farmasi, pangan dll. Juga untuk keperluan sehari-hari seperti sabun, lilin, makanan juga pakai kelapa sawit,” ungkapnya. 

Di samping itu, investasi dan hilirisasi merupakan strategi pemerintah menggenjot produksi sawit nasional. Menurut Musdalifah, salah satu program prioritas yakni pemanfaatan sawit sebagai energi baru terbarukan melalui mandat penggunaan B100

“Kita juga mendorong untuk pemanfaatannya,  B100 kan kita sudah riset supaya demand kita tidak tergantung dengan demand luar karena produksi kita akan terus bertumbuh. Kita juga melakukan re-planting rencananya dari produktivitasnya diharapkan bisa bertumbuh hingga tiga kali lipat dari sebelumnya,” ungkapnya. 

(SANDY)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement