Menurutnya, sebagai negara net importer energi, Indonesia cukup rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Ketergantungan terhadap impor minyak mentah (crude oil) dan bahan bakar minyak (BBM) masih tinggi, sementara produksi domestik belum optimal dan konsumsi energi terus meningkat.
Rizal menjelaskan, apabila harga minyak dunia melampaui asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka beban fiskal berpotensi meningkat.
"Artinya apa? Konflik ini memang akan men-drive harga minyak dunia, kalau bicara minyak dunia di atas dari asumsi fiskal, maka tentu akan membebani APBN. Jadi, harga minyak dunia naik, ini kan tentu biaya impor energi akan naik, beban subsidi kompensasi terhadap energi juga akan berpotensi naik. Sehingga akan menekan fiskal kita," kata dia.
(NIA DEVIYANA)