sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Dongkrak Harga Minyak, Ini Risikonya Bagi Fiskal RI

Economics editor Tangguh Yudha
01/03/2026 18:25 WIB
Eskalasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran berpotensi mengerek harga minyak dunia dan berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk Indonesia. 
Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Dongkrak Harga Minyak, Ini Risikonya Bagi Fiskal RI. Foto: Reuters.
Konflik AS-Israel vs Iran Berpotensi Dongkrak Harga Minyak, Ini Risikonya Bagi Fiskal RI. Foto: Reuters.

IDXChannel - Eskalasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran berpotensi mengerek harga minyak dunia dan berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk Indonesia. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman menilai risiko utama dari konflik tiga negara ini adalah terganggunya pasokan minyak global. 

Pasalnya, Iran berada di kawasan Teluk Persia dan dekat dengan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

"Yang pasti konflik ini, risiko gangguan pasokan minyak yang paling penting. Bahkan Iran ini kan berada di Teluk Persia dan dekat Selat Hormuz, yaitu Selat di mana jalur seperlima perdagangan minyak dunia. Jadi, resikonya tentu harga minyak akan naik," kata Rizal saat ditemui, Minggu (1/3/2026).

Dia menilai, kenaikan harga minyak sangat mungkin terjadi bukan semata-mata karena pasokan sudah terhenti, melainkan akibat meningkatnya faktor ketidakpastian atau risk premium di pasar global. Rizal juga mewanti dampaknya terhadap Indonesia.

Menurutnya, sebagai negara net importer energi, Indonesia cukup rentan terhadap gejolak harga minyak dunia. Ketergantungan terhadap impor minyak mentah (crude oil) dan bahan bakar minyak (BBM) masih tinggi, sementara produksi domestik belum optimal dan konsumsi energi terus meningkat.

Rizal menjelaskan, apabila harga minyak dunia melampaui asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), maka beban fiskal berpotensi meningkat.

"Artinya apa? Konflik ini memang akan men-drive harga minyak dunia, kalau bicara minyak dunia di atas dari asumsi fiskal, maka tentu akan membebani APBN. Jadi, harga minyak dunia naik, ini kan tentu biaya impor energi akan naik, beban subsidi kompensasi terhadap energi juga akan berpotensi naik. Sehingga akan menekan fiskal kita," kata dia.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement