“Jika dalam 22 hari tidak masuk pasokan baru akan berisiko besar bagi industrialisasi, transportasi, kelistrikan, hingga potensi gejolak sosial,” katanya, dikutip Sabtu (4/4/2026).
Deendarlianto mengapresiasi langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah dalam menghadapi potensi krisis energi, salah satunya melalui pengembangan energi terbarukan. Ia mencontohkan kebijakan B50, yakni pencampuran bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel ke dalam solar untuk menekan impor.
Kebijakan tersebut telah ditetapkan dan direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Kendati begitu, ia menilai sejumlah kebijakan lain seperti penerapan Work From Home (WFH) masih perlu dikaji secara mendalam sebelum diterapkan secara luas.
“Saya pikir itu ide yang baik, namun perlu dilakukan pengkajian yang lebih dalam lagi dan tidak untuk dijadikan generalisasi,” kata Deen.