“Angka ini bukan lagi angka spekulatif, tetapi berbasis data historis,” ujarnya.
Anthony menambahkan, dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, tekanan terhadap rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen dalam waktu relatif singkat, yakni antara tiga hingga enam bulan ke depan.
“Dalam kondisi geopolitik yang lebih ekstrem, depresiasi rupiah bahkan dapat melampaui 20 persen. Skenario tersebut dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, tiga hingga enam bulan ke depan,” ucapnya.
Ia juga menilai fundamental ekonomi nasional saat ini masih rentan menghadapi gejolak eksternal, baik dari sisi fiskal, moneter, maupun stabilitas nilai tukar.
“Fundamental ekonomi, baik fiskal, moneter, dan nilai tukar, sebenarnya sangat lemah, kalau tidak mau disebut rapuh. Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik,” ujarnya. (Wahyu Dwi Anggoro)