Sementara itu, emiten batu bara seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), serta PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) juga berpeluang memperoleh katalis positif jika harga energi global terus menanjak.
Secara sektoral, lonjakan harga energi umumnya turut mendorong inflasi komoditas dan memperkuat sentimen sektor resources.
Namun, sejumlah sektor berpotensi tertekan. Transportasi dan logistik menghadapi risiko kenaikan biaya operasional karena bahan bakar menjadi komponen biaya utama.
Industri manufaktur juga berisiko mengalami penurunan margin akibat kenaikan biaya produksi. Sementara sektor konsumer dapat terdampak jika inflasi energi menggerus daya beli masyarakat.
(DESI ANGRIANI)