Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia, dan keduanya juga mengimpor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.
Selain itu, perubahan distribusi energi global juga berpotensi memengaruhi negara-negara pengimpor utama minyak seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan yang sekaligus merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia. Kenaikan biaya energi di negara-negara tersebut dapat menekan aktivitas industri dan berdampak pada permintaan produk ekspor Indonesia.
Jika ketegangan geopolitik berlangsung cukup lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak di kisaran USD85 hingga USD120 per barel, jauh di atas rata-rata awal tahun yang berada di sekitar USD60 per barel.
Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan akan terasa terutama pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor, seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Kenaikan biaya input berisiko menggerus margin, terlebih jika di saat yang sama permintaan global melemah.
Di sisi lain, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperbesar tekanan bagi industri berorientasi ekspor.