Namun di tengah berbagai risiko tersebut, terdapat peluang bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia. Kenaikan harga energi global berpotensi mendorong harga batu bara, yang berkontribusi sekitar 8-9 persen terhadap total ekspor nasional. Selain itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) juga cenderung tetap kuat seiring permintaan global yang solid.
“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tutur Rini.
Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh di kisaran 4-5 persen.
Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi 5-6 persen pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan tensi geopolitik mereda.
(DESI ANGRIANI)