Sebagian besar ekspor Indonesia justru mengalir ke kawasan lain, seperti Asia Timur sebesar 36,4 persen, Asia Tenggara 20,8 persen, Amerika Utara 11,5 persen, Asia Selatan 9,6 persen, dan Eropa Barat 5,7 persen.
Dengan demikian, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor utama yang menentukan kinerja ekspor Indonesia.
“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (18/3/2026).
Kawasan Timur Tengah sendiri memiliki peran vital dalam sistem energi global, dengan kontribusi lebih dari 30 persen produksi minyak dunia. Sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global juga melewati Selat Hormuz.
Gangguan pada jalur ini dapat secara cepat mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan biaya logistik global.
Meskipun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap dirasakan melalui jalur perdagangan regional.