sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak, Ini Dampaknya Bagi Ekspor RI

Economics editor Desi Angriani
19/03/2026 06:00 WIB
Dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia relatif terbatas karena eksposur dengan kawasan tersebut masih kecil.
Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak, Ini Dampaknya Bagi Ekspor RI (Foto: dok Freepik)
Konflik Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak, Ini Dampaknya Bagi Ekspor RI (Foto: dok Freepik)

IDXChannel - Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global serta biaya logistik perdagangan internasional.

Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani menilai, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia relatif terbatas karena eksposur dengan kawasan tersebut masih kecil.

Risiko utama justru muncul melalui jalur tidak langsung, terutama dari kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta potensi perlambatan aktivitas industri di negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi kinerja ekspor nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah oleh Indonesia Eximbank Institute, porsi ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2 persen dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim meliputi minyak kelapa sawit, perhiasan, serta kendaraan bermotor.

Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9 persen dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. Struktur ini menunjukkan bahwa keterkaitan perdagangan langsung Indonesia dengan kawasan konflik relatif terbatas.

Sebagian besar ekspor Indonesia justru mengalir ke kawasan lain, seperti Asia Timur sebesar 36,4 persen, Asia Tenggara 20,8 persen, Amerika Utara 11,5 persen, Asia Selatan 9,6 persen, dan Eropa Barat 5,7 persen. 
Dengan demikian, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor utama yang menentukan kinerja ekspor Indonesia.

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujarnya dalam keterangan, Rabu (18/3/2026).

Kawasan Timur Tengah sendiri memiliki peran vital dalam sistem energi global, dengan kontribusi lebih dari 30 persen produksi minyak dunia. Sekitar 20-30 persen perdagangan minyak global juga melewati Selat Hormuz. 

Gangguan pada jalur ini dapat secara cepat mendorong kenaikan harga energi sekaligus meningkatkan biaya logistik global.

Meskipun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap dirasakan melalui jalur perdagangan regional. 

Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia, dan keduanya juga mengimpor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Selain itu, perubahan distribusi energi global juga berpotensi memengaruhi negara-negara pengimpor utama minyak seperti China, Jepang, India, dan Korea Selatan yang sekaligus merupakan pasar ekspor penting bagi Indonesia. Kenaikan biaya energi di negara-negara tersebut dapat menekan aktivitas industri dan berdampak pada permintaan produk ekspor Indonesia.

Jika ketegangan geopolitik berlangsung cukup lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak di kisaran USD85 hingga USD120 per barel, jauh di atas rata-rata awal tahun yang berada di sekitar USD60 per barel.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan akan terasa terutama pada sektor yang bergantung pada bahan baku impor, seperti manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Kenaikan biaya input berisiko menggerus margin, terlebih jika di saat yang sama permintaan global melemah.

Di sisi lain, volatilitas pasar keuangan global juga dapat menekan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan memperbesar tekanan bagi industri berorientasi ekspor.

Namun di tengah berbagai risiko tersebut, terdapat peluang bagi sejumlah komoditas unggulan Indonesia. Kenaikan harga energi global berpotensi mendorong harga batu bara, yang berkontribusi sekitar 8-9 persen terhadap total ekspor nasional. Selain itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) juga cenderung tetap kuat seiring permintaan global yang solid.

“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” tutur Rini.

Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh di kisaran 4-5 persen.

Angka tersebut berpotensi meningkat menjadi 5-6 persen pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan tensi geopolitik mereda.

(DESI ANGRIANI)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement