Dari dalam negeri, Ibrahim turut menyoroti data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang tercatat sebesar 5,61 persen. Menurut dia, angka tersebut memunculkan sejumlah perdebatan karena dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi di tingkat masyarakat.
Dia menyebut sejumlah kajian akademik memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil berada di kisaran 4,6–4,8 persen. Ibrahim juga mendorong adanya mekanisme evaluasi dan penyempurnaan data statistik secara bertahap untuk meningkatkan akurasi dan efektivitas kebijakan.
Tekanan terhadap Rupiah, menurut dia, juga berdampak pada kenaikan harga barang sehingga memengaruhi daya beli masyarakat. Pasar saat ini masih akan mencermati perkembangan sentimen global maupun domestik yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan nilai tukar ke depan.
(Shifa Nurhaliza Putri)