AALI
9925
ABBA
400
ABDA
6500
ABMM
1555
ACES
1275
ACST
236
ACST-R
0
ADES
3050
ADHI
1085
ADMF
7800
ADMG
195
ADRO
1925
AGAR
330
AGII
1485
AGRO
2240
AGRO-R
0
AGRS
187
AHAP
71
AIMS
440
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1070
AKRA
4290
AKSI
400
ALDO
960
ALKA
240
ALMI
246
ALTO
262
Market Watch
Last updated : 2021/12/08 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
504.74
-0.54%
-2.76
IHSG
6603.80
0.02%
+1.23
LQ45
945.59
-0.48%
-4.58
HSI
23996.87
0.06%
+13.21
N225
28860.62
1.42%
+405.02
NYSE
0.00
-100%
-16591.97
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,343
Emas
824,868 / gram

Krisis Energi Fosil Dinilai Dapat Membuka Peluang Transisi EBT Lebih Cepat

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Selasa, 12 Oktober 2021 07:02 WIB
Krisis energi yang tengah terjadi di berbagai negara di dunia membuka peluang untuk mempercepat transisi energi ke energi baru terbarukan (EBT) bagi Indonesia.
Krisis Energi Fosil Dinilai Dapat Membuka Peluang Transisi EBT Lebih Cepat (Ilustrasi)
Krisis Energi Fosil Dinilai Dapat Membuka Peluang Transisi EBT Lebih Cepat (Ilustrasi)

IDXChannel - Krisis energi yang tengah terjadi di berbagai negara di dunia membuka peluang untuk mempercepat transisi energi ke energi baru terbarukan (EBT) bagi Indonesia.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, belajar dari pengalaman krisis energi minyak di tahun 1970-an menyebabkan pengembangan energi terbarukan di Amerika Serikat dan Eropa. Sementara krisis energi di tahun 2008 yang menyebabkan harga bahan bakar fosil yang lebih tinggi membuat energi bersih digunakan lebih cepat.

"Melihat dari pengalaman krisis energi yang terjadi di tahun 1970-an sampai sekarang, krisis itu mempercepat transisi. Jadi kita harus melihat krisis ini sebagai kesempatan untuk mengakselerasi energi terbarukan," ujarnya dalam webinar yang bertajuk Energy Crisis in UK and Europe, Senin (11/10/2021).

Fabby melanjutkan, Indonesia harus segera beralih dari sistem energi yang bergantung pada bahan bakar fosil ke sistem berbasis energi terbarukan. Semakin tinggi bergantung pada pasokan energi primer fosil maka semakin tinggi pula tingkat kerentanan dan keamanan risiko pasokan.

"Jadi ini risiko yang bisa kita hindari kalau kita bisa menggunakan lebih banyak energi terbarukan. Kemudian kita juga harus mengakselerasi supaya bisa menghindari krisis bahan bakar fosil seperti yang terjadi saat ini," ungkapnya.

Menurut dia, Indonesia agak beruntung karena sebagai negara produsen bahan bakar fosil memiliki kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) untuk memberikan proteksi kepada perusahaan listrik seperti PLN agar tahan terhadap krisis. Namun kebijakan tersebut juga merugikan karena kebijakan DMO yang ada membuat energi terbarukan tidak bisa bersaing secara apple to apple karena ada subsidi ke energi fosil.

"Melihat pengalaman di Eropa dan Inggris, kita harus memikirkan diversifikasi pasokan energi dan efisiensi energi. Ketika meningkatkan bauran EBT maka harus memikirkan energy storage dalam jangka panjang," tuturnya.

Fabby menuturkan, transisi energi harus dilakukan secara terencana dan menyiapkan instrumen pengamanan untuk melindungi akses energi bagi masyarakat miskin terutama yang terdampak kebijakan harga.

"Dan yang paling penting sekali bagi Indonesia adalah mengomunikasikan transisi energi secara bijak kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya," tandasnya. (NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD