AALI
9425
ABBA
276
ABDA
0
ABMM
2440
ACES
740
ACST
190
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
790
ADMF
8175
ADMG
174
ADRO
3190
AGAR
314
AGII
2300
AGRO
830
AGRO-R
0
AGRS
113
AHAP
95
AIMS
280
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1575
AKRA
1190
AKSI
274
ALDO
755
ALKA
288
ALMI
298
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
538.68
-0.69%
-3.72
IHSG
7129.28
-0.43%
-31.11
LQ45
1012.04
-0.62%
-6.29
HSI
20175.62
0.46%
+93.19
N225
28546.98
2.62%
+727.65
NYSE
15602.93
0.32%
+50.23
Kurs
HKD/IDR 205
USD/IDR 14,795
Emas
850,422 / gram

Lebih Dekat dengan Istilah Bubble Burst di Startup

ECONOMICS
Tim Litbang MPI
Selasa, 07 Juni 2022 17:17 WIB
Istilah bubble burst sedang ramai diperbincangkan. Hal ini lantaran sejumah perusahaan rintisan (startup) di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja.
Lebih Dekat dengan Istilah Bubble Burst di Startup. (Foto: MNC Media)
Lebih Dekat dengan Istilah Bubble Burst di Startup. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Istilah bubble burst sedang ramai diperbincangkan. Hal ini lantaran sejumah perusahaan rintisan (startup) di Indonesia melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya.

Lalu apa itu bubble burst?

Bubble burst adalah pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan nilai pasar yang naik dengan cepat terutama harga aset. Inflasi yang cepat ini kemudian diikuti penurunan nilai yang cepat.

Hal itulah yang disebut bubble burst atau ledakan gelembung. Umumnya, gelembung disebabkan lonjakan harga aset yang didorong perilaku pasar yang tinggi. Aset diperdagangkan pada harga atau dalam kisaran harga yang melebihi nilai intrinsik aset.

Fenomena bubble burst terjadi setiap kali harga barang naik jauh di atas nilai riil barang. Bubble burst biasanya dikaitkan dengan perubahan perilaku investor.

Gelembung di pasar ekuitas dan ekonomi menyebabkan sumber daya ditransfer ke area dengan pertumbuhan yang cepat. Pada akhir gelembung, sumber daya ditarik dengan cepat juga sehingga nilai aset yang menggelembung anjlok.

Terdapat lima tahap dalam fenomena bubble burst ini, menurut ekonom Hyman P.Minsky, yaitu:

Perpindahan

Pada tahap ini merupakan fase seorang investor tertarik oleh paradigma baru. Misalnya saat ditemukan teknologi atau inovasi baru seperti Metaverse.

Booming

Tahap ini merujuk pada kenaikan harga di awal usai pergeseran atau perpindahan. Lalu, lantaran banyak menarik perhatian pasar, maka akan lahir tahap booming. Pada tahap ini, aset akan banyak disorot oleh media. Akan banyak pula terjadi spekulasi sehingga mencuri perhatian pelaku pasar dan investor.

Euforia

Di tahap euforia, kehati-hatian akan berkurang seiring meroketnya harga aset. Valuasi akan mentok ke titik kulminasi. Contohnya, saat terjadi puncak gelembung properti di Jepang pada 1980-an.

Profit Taking

Mencari tahu kapan gelembung akan meledak tidaklah mudah. Sekali gelembung telah pecah, maka tidak akan mengembang lagi. Para investor yang cerdas akan menangkap sinyal apabila gelembung hampir meledak, mereka akan menjual aset dan mengambil keuntungan (profit taking).

Panik

Ketika gelembung sudah pecah, maka terbentuk tahap panik. Harga aset akan menukik tajam. Para investor harus berhadapan dengan jatuhnya nilai kepemilikan aset. Mereka pun akan segera mencairkan aset dengan harga berapa pun. Karena pasokan mendominasi permintaan, harga aset merosot tajam.

Fenomena PHK massal oleh perusahaan rintisan (startup) seperti JD.ID, LinkAja, TaniHub, hingga Zenius dihubungkan dengan bubble burst. Apakah saling berkaitan?

Menurut Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia, Rudiantara, apa yang terjadi pada perusahaan startup yang mem-PHK karyawannya bukanlah bubble burst. Ia menambahkan, apabila ada letupan, maka itu merupakan hal yang wajar.

Menurut Rudiantara, kejadian yang terjadi saat ini bukan guncangan luar biasa seperti yang terjadi pada industri internet di tahun 1990-an yang dikenal dengan dotcom bubble.

Selain itu, ia menyebut, startup seperti bisnis pada umumnya, tidak semuanya dapat sukses. Terdapat sekitar 10 persen startup yang tidak dapat melewati tahun pertama. Sementara 90 persen lainnya tidak dapat melewati lima tahun pertama. Karena itu, 10 persen startup yang berhasil melewati lima tahun, sudah dianggap cukup bagus. Rudi mengatakan, yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang biasa.

Bedanya, ini baru, eksposur media banyak, jadi ekspektasinya banyak. Namun menurutnya, hal ini biasa-biasa saja.

Valuasi yang tinggi dianggap rawan menyebabkan terjadinya bubble burst. Menurut CEO Mandiri Capital Eddi Danusaputro, dari kacamata investor, valuasi yang ada di startup dinilai berlebihan.

Eddi menilai, dalam beberapa tahun terakhir valuasi yang terjadi terbilang cukup tinggi. Semestinya, valuasi startup lebih masuk akal dengan adanya liquidity crunch. Kemudian, dia menilai efisiensi yang terjadi di startup seperti yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang positif. Saat ini yang menjadi sorotan bukan lagi besarnya valuasi, namun value dari startup itu sendiri.

Pengamat teknologi sekaligus Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, kondisi startup saat ini bukanlah fenomena pecahnya gelembung, melainkan adanya kebocoran pada gelembung.

Menurutnya, kebocoran gelembung ini disebabkan perusahaan startup sulit untuk mendapatkan pendanaan dan tidak mempunyai aset. Padahal, untuk meraih peminat, banyak startup yang harus melakukan strategi bakar uang.

Bahkan menurut Heru, bakar uang yang dilakukan startup masih terus berjalan. Diprediksi, dalam 1-2 tahun akan mengalami kerontokan. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD