Masyarakat Rebutan Susu Beruang, Dokter Ahli: Menyedihkan, Malah Lebih Berisiko

IDXChannel - Pemberitaan tentang panic buying susu beruang masyarakat hingga jadi viral menjadi perhatian pakar kesehatan Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., MMB., FINASIM., FA, yang juga guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Dari cuitannya di Twitter belum lama ini, dia mengaku sedih dengan adanya fenomena masyarakat memborong benda salah satunya susu beruang di tengah lonjakan kasus.
"Sedih mendengar masyarakat borong susu, obat, oksigen, dan yang lainnya, yang belum tentu perlu," katanya di media sosial, belum lama ini.
Padahal, sambung Prof Ari, masyarakat yang sampai harus berburu susu beruang ke toko itu mereka mempertaruhkan nyawanya untuk berkerumun dengan orang lain di tempat yang tertutup dan karena itu, risiko dia terpapar Covid-1 malah lebih tinggi dibandingkan manfaat dari susu beruang yang belum tentu ada.
"Risiko penularan terjadi saat (mereka) mengantre dan berebut produk tersebut. Belum lagi kepanikan bisa membuat stres dan ini memengaruhi daya tahan tubuh," ungkapnya.
Prof Ari mengimbau pada masyarakat agar di saat seperti sekarang, cara paling bijak adalah tetap di rumah dan terus menjaga kesehatan tubuh dan jangan terlupakan yang namanya tetap berdoa.
"Tenang di rumah, banyak berdoa, itu lebih sehat," ujarnya.
Lebih lanjut, Dokter Faheem Younus, dokter yang berbasis di Amerika Serikat, mengimbau untuk masyarakat Indonesia agar tidak mudah terpengaruh pada informasi yang belum jelas kebenarannya.
Bahkan, dia mengatakan di Twitter kalau susu beruang itu tidak memiliki peran dalam pengobatan Covid-19.
"My Indonesian Friends. This milk, or vitamins or ivermectin has no role in Covid-19 treatment. Susu ini, vitamin, atau Ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan Covid-19," terangnya.
(IND)