AALI
8150
ABBA
590
ABDA
0
ABMM
1300
ACES
1305
ACST
274
ACST-R
0
ADES
2460
ADHI
740
ADMF
7650
ADMG
224
ADRO
1275
AGAR
400
AGII
1670
AGRO
2620
AGRO-R
0
AGRS
226
AHAP
58
AIMS
424
AIMS-W
0
AISA
222
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
615
AKRA
3560
AKSI
446
ALDO
615
ALKA
232
ALMI
232
ALTO
304
Market Watch
Last updated : 2021/07/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
447.63
-0.38%
-1.72
IHSG
6097.05
-0.15%
-9.35
LQ45
837.82
-0.48%
-4.00
HSI
25086.43
-4.22%
-1105.89
N225
27970.22
0.49%
+136.93
NYSE
16565.31
0.08%
+12.93
Kurs
HKD/IDR 1,860
USD/IDR 14,490
Emas
838,346 / gram

Menilik Bitcoin Haram atau Halal, Ini 11 Catatan MUI

ECONOMICS
Yulistyo Pratomo
Selasa, 04 Mei 2021 11:08 WIB
Pergerakan harga yang naik turun membuat banyak lembaga keagamaan meneliti apakah bitcoin tersebut sesuai dengan syariah atau tidak, termasuk salah satunya MUI.
Menilik Bitcoin Haram atau Halal, Ini 11 Catatan MUI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Bitcoin mendadak menjadi fenomena dunia sejak kemunculannya pada 2017 lalu. Sejumlah orang berlomba-lomba untuk menanamkan uangnya ke mata uang digital tersebut.

Pergerakan harga yang naik turun membuat banyak lembaga keagamaan meneliti apakah bitcoin tersebut sesuai dengan syariah atau tidak, termasuk salah satunya Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketua Bidang Pengurus MUI Pusat, KH Cholil Nafis, mengungkapkan telah memberikan 11 catatan terkait mata uang tersebut. Hasilnya, Bitcoin adalah investasi yang lebih dekat pada gharar alias spekulasi yang merugikan orang lain.

Analisi ini bukan tanpa sebab. Cholil memandang Bitcoin tidak memiliki aset pendukung (underlying asset), sehingga harga tak bisa dikontrol dan keberadaannya tak ada yang menjamin secara resmi.

Dengan pandangan itu, maka Cholil memandang investasi di sektor Bitcoin merupakan haram.

Berikut 11 catatan yang dilansir MUI melalui laman resminya:

1. Bitcoin adalah bagian dari perkembangan teknologi digital yang ingin membuat alat tukar transaksi bahkan investasi di luar kontrol bank sentral dan pemerintah manapun di dunia manapun. Bitcoin sepenuhnya mekanisme pasar digital tergantung permintaan dan suplay.

2. Bitcoin adalah mata uang digital yang tersebar dalam jaringan peer-to-peer. Jaringan ini memiliki buku akuntansi besar bernama Blockchain yang dapat diakses oleh publik, di dalamnya tercatat semua transaksi yang pernah dilakukan oleh seluruh pengguna Bitcoin.

3. Penyebaran Bitcoin dimulai pada tahun 2009 yang diperkenalkan dengan oleh nama samaran Satoshi Nakamoto sebagai mata uang digital yang berbasiskan cryptography. Penggunaan lainnya untuk menunjang kehidupan masyarakat dalam jual beli mata uang digital disebut cryptocurrency.

4. Cryptocurrency adalah mata uang digital yang tidak diberikan regulasi oleh pemerintah dan tidak termasuk mata uang resmi. Bitcoin dibatasi hanya 21 juta, yang dapat diperoleh dengan cara membelinya atau menambangnya. Ia dapat berguna sebagai alat tukar dan investasi.

5. Bitcoin pada beberapa negara digolongkan sebagai mata uang asing. umumnya tidak diakui otoritas dan regulator sebagai mata uang dan alat tukar resmi karena tidak merepresentasikan nilai aset. Transaksi Bitcoin mirip forex (foreign exchange, valas), maka trading-nya kental rasa spekulatif.

6. Sebagian ulama mengatakan, Bitcoin sama denang uang karena menjadi alat tukar yang diterima oleh masyarakat umum, standar nilai dan alat saving. Namun ulama lain menolaknya sebagai pengakuan masyarakat umum karena masih banyak negara yang menolaknya.

7. Defini uang: "النقد هو كل وسيط للتبادل يلقي قبولا عاما مهما كان ذلك الوسيط وعلى أيّ حال يكون" "uang: segala sesuatu yang menjadi media pertukaran dan diterima secara umum, apa pun bentuk dan dalam kondisi seperti apa pun". Ini berdasarkan Buhuts fi al-Iqtishad al-Islami, 1996, halama 178.

8. Fatwa DSN MUI Transaksi jual beli mata uang adalah boleh dengan ketentuan: tidak untuk spekulasi, ada kebutuhan, apabila transaksi dilakukan pada mata uang sejenis nilainya harus sama n tunai (attaqabudh). jika berlainan jenis harus degan kurs yang berlaku saat transaksi dan tunai.

9. Bitcoin sebagai alat tukar hukumnya boleh dengan syarat harus ada serah terima (taqabudh) dan sama kuantitas jika jenisnya sama. Jika jenisnya berbeda disyaratkan harus taqabudh secara haqiqi atau hukmi (ada uang, ada bitcoin yang bisa diserahterimkan).

Diqiyaskan dengan emas dan perak, semua benda yang disepakati berlaku sebagai mata uang dan alat tukar.

10. Bitcoin sebagai investasi lebih dekat pada gharar (spekulasi yg merugikan orang lain). Sebab keberadaannya tak ada asset pendukungnya, harga tak bisa dikontrol dan keberadaannya tak ada yang menjami secara resmi sehingga kemungkinan besar banyak spekulasi ialah haram.

11. Bitcoin hukumnya adalah mubah sebagai alat tukar bagi yang berkenan untuk menggunakannya dan mengakuinya. Namun Bitcoin sebagai investasi hukumnya adalah haram karena hanya alat sepekulasi bukan untuk investasi, hanya alat permainan untung rugi buka bisnis yang menghasilkan. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD