AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Menimbang Untung Rugi Kenaikan Harga Minyak Dunia untuk Indonesia

ECONOMICS
Anggie Ariesta
Senin, 27 September 2021 13:57 WIB
Harga minyak mentah dunia yang saat ini tengah fluktuatif perlu diperhatikan bersama. Pasalnya, itu akan memengaruhi tingklat inflasi secara global.
Harga minyak mentah dunia naik (Ilustrasi)
Harga minyak mentah dunia naik (Ilustrasi)

IDXChannel - Harga minyak mentah dunia yang saat ini tengah fluktuatif perlu diperhatikan bersama. Pasalnya, itu akan memengaruhi tingklat inflasi secara global, termasuk Indonesia. 

Ekonom Konstitusi, Defiyan Cori mengatakan, tarif atau harga minyak dunia yang naik menguntungkan produsen. Namun tetap ada kerugian yang perlu diwaspadai. 

"Namun di sisi lain merugikan konsumen karena saat ini pengguna terbesar juga masih pada minyak fosil. Ini memang lazim dimana produsen diuntungkan akibat supply dan demand. Tapi setiap negara didunia masih bergantung pada minyak fosil ini yang berimbas ke perekonomian masing-masing,” ujarnya dalam Market Review IDX Channel di Jakarta, Senin (27/9/2021).

Jika mencerminkan harga perekonomian dunia dengan dominasi negara OPEC karena penghasil minyak, kenaikan harga yang saat ini hampir lebih 100% sejak 3 tahun terakhir menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi ditengah perang produksi antara negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC dan non-OPEC yang dimotori oleh Rusia. 

Seperti diketahui produsen minyak terbesar saat ini tentunya masih dipegang oleh Amerika Serikat dengan produksi hampir 14 juta barel per hari, yang kedua disusul oleh Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah dengan produksi hampir 12 juta barel, sementara yang terakhir Rusia hampir 11 juta barel.

Menurut Defiyan, asumsinya semua negara tergantung pada energi fosil terutama minyak mentah ini masih besar porsinya, otomatis yang dibutuhkan adalah negara-negara produsen.

"Tetapi jangan salah, kalau semua negara atau beberapa negara dengan konsumsi sudah siap dengan energi alternatifnya, bukan tidak mungkin sebagai pukulan bagi negara produsen ini," ujar dia. 

Menurut Defiyan, stategi mengatur atau memainkan harga naik dan turun ini justru menjadi boomerang bagi mereka yang produksi energi minyak dari sumber energi fosil. Sebab kesiapan negara yang masing-masing yang didalam konteks abad 21 ini kecenderungannya adalah mau menyelamatkan kondisi perekonomian negaranya masing-masing.

"Jadi saya kira dengan ketersediaan yang melimpah pun bagi Amerika dan negara-negara produsen sedang mengalami posisi yang tidak enak dalam mengelola perekonomian dunia terutama di dalam memasarkan energi fosil ini, belum tentu juga harga ini merupakan pukulan dunia," katanya. (NDA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD