AALI
9675
ABBA
314
ABDA
6975
ABMM
1360
ACES
1260
ACST
186
ACST-R
0
ADES
3450
ADHI
810
ADMF
7600
ADMG
175
ADRO
2280
AGAR
360
AGII
1410
AGRO
1320
AGRO-R
0
AGRS
152
AHAP
68
AIMS
370
AIMS-W
0
AISA
173
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1075
AKRA
735
AKSI
660
ALDO
1405
ALKA
294
ALMI
288
ALTO
274
Market Watch
Last updated : 2022/01/28 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
508.18
0.2%
+0.99
IHSG
6645.51
0.52%
+34.35
LQ45
949.77
0.29%
+2.75
HSI
23550.08
-1.08%
-256.92
N225
26717.34
2.09%
+547.04
NYSE
0.00
-100%
-16236.51
Kurs
HKD/IDR 1,842
USD/IDR 14,364
Emas
829,485 / gram

Menkeu Sri Mulyani Was-was Modal Asing Bisa Kabur dari RI

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Selasa, 23 November 2021 10:52 WIB
Menkeu Sri Mulyani sedang was-was, pasalnya tingginya angka inflasi di negara maju yang birisiko berimbas kaburnya modal investor asing keluar dari Indonesia.
Menkeu Sri Mulyani Was-was Modal Asing Bisa Kabur dari RI (FOTO: MNC Media)
Menkeu Sri Mulyani Was-was Modal Asing Bisa Kabur dari RI (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sedang was-was, pasalnya tingginya angka inflasi di negara-negara maju dan kembali melonjaknya kasus covid-19 bakal berimbas kaburnya modal investor asing keluar dari Indonesia.

Menteri Keuangan (Menkeu)  Sri Mulyani mengatakan dinamika perekonomian global membawa risiko disrupsi suplai dan aliran modal. Hal ini bisa menyebabkan modal asing bakal kabur dan menekan nilai tukar rupiah.

"Ini perlu diwaspadai  karena dampakanya ke seluruh dunia termasuk Indonesia karena kalau itu terjadi di negara negara maju  mereka (negara maju)  akan dipaksa pengetatan moneter dan  capital outflow dan pengetatan nilai tukar," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Selasa (22/11/2021).

Menurutnya, negara maju mengalami kenaikan inflasi serta kenaikan harga komdiutas dan semuanya  mendorong kenaikan secara drasfis. Apalagi, beberapa negara menaikan defisitnya pada keuangan negara.

"Negara maju dalam pilihan sulit ," imbuhnya.

Lanjutnya,  Indonesia tidak bisa mengontrol kondisi global. Namun pemerintah dapat mengatur kebijakan fiskal untuk merespons perkembangan kondisi itu. 

"Dalam proses pemulihan ini lingkungan global tidak statis, dinamis, atau cenderung volatil," katanya.

Selain itu, Indonesia harus mampu terus menjaga pulihnya permintaan (demand) tanpa membawa dampak inflasi berlebih. Menurutnya, saat ini muncul risiko disrupsi suplai (supply disruption) ketika perekonomian nasional tumbuh, tetapi sejalan dengan kondisi global bahwa terdapat potensi kenaikan inflasi. 

"Kita perlu waspada supply disruption, apabila demand lebih cepat dari supply-nya, ini membentuk demand side inflation," tutup Sri Mulyani. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD