"Investor Jerman bersifat long-term dan tidak memonitor saham harian, apalagi mereka melihat Indonesia sebagai middle power atau negara kekuatan menengah yang semakin lama semakin penting," kata dia.
Tren hubungan dagang kedua negara juga mulai bergeser dari sekadar impor barang modal menjadi kemitraan berbasis transfer teknologi dan penguatan rantai pasok secara menyeluruh. Pemerintah kini tengah membidik penguatan kapasitas produksi komponen berteknologi tinggi melalui pendalaman ekosistem pusat industri yang sudah ada.
"Indonesia secara spesifik meminta penguatan ekosistem semikonduktor, apalagi perusahaan Jerman seperti Infineon sudah beroperasi di Batam sehingga kita ingin kerja sama ini diperdalam lagi," kata Airlangga.
Dalam momen bersamaan, Kadin Indonesia menyatakan kesiapannya untuk menjembatani animo pengusaha Jerman dalam memanfaatkan momentum perjanjian perdagangan bebas Uni Eropa-Indonesia (EU-CEPA). Antusiasme Jerman sebagai motor ekonomi Uni Eropa dipandang sebagai peluang besar untuk mempercepat proses industrialisasi nasional melalui kucuran modal asing yang lebih masif pada sektor-sektor masa depan.
"Terlihat animo besar untuk berdagang memanfaatkan EU-CEPA, termasuk keinginan mereka menambah investasi pada sektor mineral kritis, energi transisi, hingga advanced manufacturing," kata Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie.
(NIA DEVIYANA)