“Investor asing akan memantau kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi. Reaksi pasar sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan Bank Indonesia mengomunikasikan stabilitas transisi kepemimpinan ini,” kata Rahma.
Adapun Rahma memaparkan sejumlah poin krusial yang melatarbelakangi situasi tersebut. Faktor utama dipicu oleh depresiasi mendalam mata uang Garuda, di mana nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan hebat hingga mendekati level Rp17.600 hingga Rp18.150 per dolar AS.
Kondisi ini memicu kekhawatiran luas terhadap stabilitas harga barang impor, pembengkakan beban utang luar negeri, hingga penurunan daya beli masyarakat.
Tekanan tersebut kian diperparah oleh dinamika global, termasuk eskalasi konflik AS-Iran yang mengganggu jalur logistik energi di Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak dunia, serta memperkuat dominasi dolar AS secara global.
Meski BI telah menggelar berbagai instrumen stabilisasi seperti operasi moneter, lelang repo, hingga intervensi pasar, kebijakan tersebut mendapat sorotan tajam dari Komisi XI DPR RI karena dinilai kurang cepat dan optimal.