AALI
10225
ABBA
474
ABDA
0
ABMM
1650
ACES
1405
ACST
262
ACST-R
0
ADES
2540
ADHI
1095
ADMF
7875
ADMG
240
ADRO
1765
AGAR
344
AGII
1530
AGRO
2130
AGRO-R
0
AGRS
214
AHAP
64
AIMS
505
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
900
AKRA
4650
AKSI
570
ALDO
755
ALKA
246
ALMI
240
ALTO
294
Market Watch
Last updated : 2021/10/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
513.30
0.5%
+2.54
IHSG
6656.94
0.47%
+31.24
LQ45
965.04
0.39%
+3.72
HSI
26038.27
-0.36%
-93.76
N225
29106.01
1.77%
+505.60
NYSE
17169.07
0.27%
+46.83
Kurs
HKD/IDR 1,818
USD/IDR 14,150
Emas
818,997 / gram

Naik 2 Persen di Tengah Pandemi, Industri Mamin Mampu Gerakkan Ekonomi Nasional

ECONOMICS
Hafid Fuad/Koran Sindo
Kamis, 27 Mei 2021 14:25 WIB
Sektor pariwisata berkontribusi terhadap 8,8% dari total konsumsi pangan di Indonesia.
Naik 2 Persen di Tengah Pandemi, Industri Mamin Mampu Gerakkan Ekonomi Nasional (FOTO:MNC Media)

IDXChannel - Data dari The Economic Impact of Agri-Food Sector in South East Asia yang ditulis oleh Food Industry Asia (FIA), menunjukkan sektor agri-food di Indonesia tetap kokoh selama pandemi COVID-19, dengan pertumbuhan 2% pada tahun 2020, atau terjadi peningkatan kontribusi untuk PDB sebesar USD 8,2 miliar. 

Namun, sektor ini diperkirakan akan menghadapi tantangan di masa pemulihan ekonomi. Matriks dari laporan Economic Recovery menempatkan Indonesia dengan risiko pemulihan tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Ini karena Indonesia sangat bergantung pada sektor pariwisata untuk memulihkan kembali industri pangannya.  

Menanggapi temuan tersebut Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman), Adhi Siswaya Lukman mengatakan sektor pariwisata berkontribusi terhadap 8,8% dari total konsumsi pangan di Indonesia. 

Namun, faktanya pariwisata internasional masih terus diliputi ketidakpastian. Karena itu industri agri-food perlu bekerja sama dengan pemerintah untuk mencari strategi baru agar mampu berkembang di era kenormalan baru saat ini.  

Menurutnya dari laporan ini terlihat kinerja yang kuat dari industri agri-food serta betapa pentingnya sektor ini dalam mendorong pergerakan ekonomi nasional

"Tapi di laporan ini juga menunjukkan bagaimana Indonesia menghadapi risiko pemulihan tertinggi di Asia Tenggara, dengan defisit fiskal yang terus memburuk," kata Adhi di Jakarta (27/5/2021). 

Lebih lanjut dia mengkhawatirkan ini akan berpotensi memunculkan tekanan biaya pada rantai pasokan makanan. Lalu pada akhirnya akan berdampak pada sektor pangan nasional.  

“Sebagai penghasil lapangan pekerjaan utama, sektor publik dan swasta harus bekerja sama untuk menopang dan mengangkat industri ini. Serta memastikan terus terdorongnya peluang-peluang  kerja,” kata Lukman.

(SANDY)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD