AALI
8900
ABBA
232
ABDA
6025
ABMM
4650
ACES
625
ACST
210
ACST-R
0
ADES
7200
ADHI
800
ADMF
8525
ADMG
168
ADRO
4050
AGAR
302
AGII
2520
AGRO
640
AGRO-R
0
AGRS
102
AHAP
109
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1605
AKRA
1400
AKSI
324
ALDO
705
ALKA
294
ALMI
380
ALTO
177
Market Watch
Last updated : 2022/09/23 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
541.91
-0.84%
-4.57
IHSG
7178.58
-0.56%
-40.32
LQ45
1025.63
-0.68%
-7.01
HSI
17933.27
-1.18%
-214.68
N225
0.00
-100%
-27313.13
NYSE
0.00
-100%
-14236.60
Kurs
HKD/IDR 1,912
USD/IDR 15,030
Emas
805,406 / gram

Negara Lagi Butuh Uang, Cukai Rokok Tahun Depan Naik

ECONOMICS
Rina Anggraeni
Senin, 16 Agustus 2021 20:04 WIB
Untuk menambah pendapatan, pemerintah memastikan menaikkan tarif cukai pada 2022.
Negara Lagi Butuh Uang, Cukai Rokok Tahun Depan Naik (FOTO: MNC Media)
Negara Lagi Butuh Uang, Cukai Rokok Tahun Depan Naik (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pemerintah membutuhkan dana besar untuk membiayai berbagai proyek infrastrutkur, pemulihan ekonomi dan penanganan pandemi covid-19. Untuk menambah pendapatan, pemerintah memastikan menaikkan tarif cukai pada 2022.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan rencana kenaikan cukai hasil tembakau tahun depan mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, terkait aspek sisi kesehatan yaitu terutama prevalensi merokok dan anak-anak.

Sebagai informasi, Pemerintah Joko Widodo atau Jokowi menargetkan penerimaan cukai dalam RAPBN 2022 sebesar Rp203,92 miliar. Angka ini tumbuh 11 persen dari outlook tahun 2021.

"Seperti tadi disampaikan bahwa untuk CHT ada target kenaikan. Seperti biasa kami akan jelaskan mengenai policy CHT, kita sudah merumuskan mengenai beberapa hal yang selalu kami sampaikan dalam menetapkan CHT," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Jakarta, Senin (16/8/2021).

Pertama, terkait aspek sisi kesehatan yaitu terutama prevalensi merokok dan anak-anak.

Faktor kedua adalah terkait tenaga kerja terutama buruh yang bekerja langsung di industri hasil rokok. Kemudian faktor lain adalah terkait dengan penerimaan negara serta faktor rokok ilegal.

"Ada aspek sisi kesehatan yaitu terutama prevalensi merokok, terutama anak anak, kemudian dari sisi tenaga kerja terutama yang buruh yang bekerja langsung di industri hasil rokok dan petani yang berhubungan dengan petani tembakau, dan kemudian juga dari sisi penerimaan negara serta faktor rokok ilegal," jelasnya.

Dia menekankan adanya empat faktor tersebut pemerintah mempertimbangkan untuk menaikkan cukai. "Pertimbangan pemerintah keempat hal ini yang selalu menjadi faktor di dalam menentukan," tukasnya. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD