sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Nilai Ekspor Garmen RI Berpotensi Tembus Rp35 Triliun, Ini Intervensi yang Harus Dilakukan

Economics editor Tangguh Yudha
07/08/2026 10:41 WIB
Indonesia berpotensi meningkatkan nilai ekspor garmen dalam angka yang fantastis, yakni senilai USD2 miliar atau setara Rp35 triliun.
Nilai Ekspor Garmen RI Berpotensi Tembus Rp35 Triliun, Ini Intervensi yang Harus Dilakukan. (Foto Istimewa)
Nilai Ekspor Garmen RI Berpotensi Tembus Rp35 Triliun, Ini Intervensi yang Harus Dilakukan. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Riset terbaru Vector Consulting Group yang dikembangkan bersama Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) mengungkapkan, Indonesia berpotensi meningkatkan nilai ekspor garmen dalam angka yang fantastis, yakni senilai USD2 miliar atau setara Rp35 triliun.

Dalam riset disebutkan, nilai ekspor garmen Indonesia masih stagnan di kisaran USD8-9 miliar selama hampir satu dekade. Di saat yang sama, negara pesaing seperti Vietnam, Bangladesh, dan Kamboja terus memperluas pangsa pasar ekspor apparel global.

Riset tersebut mengidentifikasi ketidakstabilan dalam eksekusi operasional sebagai salah satu hambatan utama yang menekan kinerja pabrik. Selain itu, ketidakpastian dalam pelepasan fabric purchase orders juga dinilai menjadi faktor penting yang memengaruhi daya saing industri secara keseluruhan.

"Industri garmen Indonesia telah memasuki tahap penting dalam perkembangannya, di mana peningkatan daya saing membutuhkan fokus yang lebih kuat pada operational excellence. Riset ini memberikan wawasan praktis bagi para pelaku industri mengenai berbagai tantangan operasional yang memengaruhi produktivitas dan kinerja ekspor," ujar Ketua Umum AGTI Anne Patricia Sutanto dalam pernyataannya, Jumat (7/8/2026).

Menurut Senior Partner Vector Consulting Group P Senthilkumar, selama ini biaya tenaga kerja menjadi fokus utama dalam pembahasan daya saing industri. Padahal, riset menunjukkan peluang yang lebih besar justru berasal dari peningkatan kualitas eksekusi operasional.

Dia menjelaskan, produsen yang mampu menerapkan praktik operasional yang disiplin berpotensi meningkatkan efisiensi lini jahit (sewing-line efficiency) sebesar 20-30 persen, mencapai tingkat ketepatan pengiriman (On-Time In-Full/OTIF) hingga 90 persen, memangkas customer lead time sebesar 20-30 persen, meningkatkan laba operasional sekitar 20 persen, serta mengurangi modal kerja yang tertahan dalam persediaan sebesar 20-30 persen.

“Selama bertahun-tahun, biaya tenaga kerja mendominasi diskusi tentang daya saing. Namun, riset kami menunjukkan bahwa peluang yang lebih besar justru terletak pada peningkatan operational execution," katanya.

Sementara itu, Country Head Indonesia Vector Consulting Group Rajesh Inamdar mengatakan, riset disusun berdasarkan kondisi operasional yang dihadapi pelaku industri tekstil dan garmen di Indonesia setiap hari, mulai dari perencanaan produksi hingga proses pengiriman.

"Laporan ini tidak hanya mengidentifikasi masalah-masalah tersebut, tetapi juga menawarkan pendekatan praktis yang berfokus pada implementasi, yang dapat membantu industri ini memperkuat daya saing globalnya," ujar dia.

Sebagai langkah perbaikan, riset merekomendasikan empat intervensi prioritas, yakni memperkuat kolaborasi lintas fungsi agar pelepasan fabric purchase orders lebih tepat waktu, menerapkan style-level capacity planning, meningkatkan pengawasan supervisor di lini produksi, serta merekonfigurasi rantai pasok bahan baku kain agar lebih responsif.

Laporan juga menyimpulkan bahwa penguatan operational excellence dapat membantu produsen garmen Indonesia meningkatkan daya saing dari sisi biaya sekaligus memperkuat keandalan dalam memenuhi jadwal pengiriman.

Diketahui laporan bertajuk 'Unlocking the USD2 Billion Opportunity: How Operational Execution Can Revive Indonesia's Garment Industry' tersebut diluncurkan dalam ajang Indo Garment & Textile (IGT) Expo di Jakarta.

Laporan ini menawarkan perspektif baru terhadap daya  saing industri garmen Indonesia, dengan menyoroti bahwa fase pertumbuhan industri berikutnya tidak hanya akan ditentukan oleh biaya tenaga kerja, tetapi juga oleh operational excellence di shop floor.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement