“Kalau sebelumnya hasil drone thermal menunjukkan normal, itu masih sangat mungkin terjadi. Ada kondisi tertentu yang baru muncul ketika sistem sedang menerima tekanan saat operasi berlangsung,” katanya.
Dalam konferensi pers investigasi, aparat turut memperlihatkan potongan kabel yang menjadi sampel barang bukti untuk pengujian laboratorium. Sampel tersebut diambil dari titik kabel yang mengalami kerusakan untuk dianalisis lebih lanjut, karena pengujian laboratorium dilakukan terhadap bagian kabel yang mengalami gangguan.
Menurut Djoko, dalam sistem interkoneksi besar seperti Sumatera, gangguan pada satu jalur transmisi strategis dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan berantai.
Hal itu terjadi karena pembangkit listrik secara otomatis akan melepaskan diri dari sistem ketika frekuensi jaringan turun drastis untuk melindungi peralatan.
“Begitu frekuensi terganggu, proteksi bekerja otomatis dan pembangkit bisa trip berantai,” ujarnya.
Menurutnya, mekanisme proteksi tersebut merupakan standar dalam sistem ketenagalistrikan untuk menjaga peralatan pembangkit dan jaringan dari risiko kerusakan yang lebih besar.
(Dhera Arizona)