Selain gangguan penerbangan, lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini menembus angka di atas USD102 per barel turut membebani industri transportasi melalui penerapan fuel surcharge.
Menghadapi situasi ini, Kemenpar menyiapkan strategi pivot pasar ke wilayah Asia Tenggara, Asia Timur, dan pasar medium-haul guna mengejar target 16–17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) pada 2026.
“Di tengah tekanan global, kita perlu bergerak lebih adaptif. Diversifikasi pasar, penguatan promosi, dan optimalisasi wisata nusantara menjadi kunci agar sektor pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional,” ujarnya.
Karena itu, Widiyanti mendorong adanya kolaborasi lintas kementerian, termasuk dalam hal insentif penerbangan dan penambahan kapasitas kursi pesawat.
“Kami percaya bahwa dengan kolaborasi seluruh kementerian dan lembaga, serta dukungan DPR RI, sektor pariwisata Indonesia akan tetap tangguh dan mampu menjaga kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” kata dia.
(Febrina Ratna Iskana)