sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pendapatan BMW Turun 25 Persen, Persaingan Brand China dan Tarif AS Jadi Faktor Utama

Economics editor Kurnia Nadya
06/05/2026 17:43 WIB
Persaingan ketat dan penerapan tarif tinggi dari Amerika Serikat menjadi penyebab utama perlambatan kinerja BMW pada kuartal I-2026.
Pendapatan BMW Turun 25 Persen, Persaingan Brand China dan Tarif AS Jadi Faktor Utama. (Foto: Istimewa)
Pendapatan BMW Turun 25 Persen, Persaingan Brand China dan Tarif AS Jadi Faktor Utama. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Produsen mobil premium asal Jerman, BMW, mencatatkan penurunan pendapatan sebelum pajak sebesar 25 persen menjadi EUR2,3 miliar, setara Rp46,98 triliun. Namun, realisasi ini masih sejalan dengan outlook BMW sepanjang 2026. 

Selain itu, pendapatan grup meleset dari perkiraan, turun 8,1 persen menjadi EUR31 miliar. 

Melansir Reuters (6/5/2026), penurunan yang tajam ini disebabkan oleh kompetisi yang kian ketat usai merek China masuk ke pasaran, ditambah lagi, produsen kini harus menanggung tekanan tarif tinggi dari Amerika Serikat. 

Kompetitor BMW, Mercedes-Benz dan Audi, juga melaporkan tantangan finansial pada kuartal pertama 2026. Dampak tarif AS dan ketatnya kompetisi usai produsen China masuk ke pasar Eropa dengan EV berharga murah, juga dirasakan oleh dua brand ini. 

BMW telah menerapkan pemangkasan biaya untuk meminimalisir dampak tekanan dari pemberlakuan tarif AS dan tingginya harga bahan baku secara global. Namun, upaya ini tak berdampak signifikan pada kinerja keuangan perusahaan. 

Berbeda dengan produsen otomotif lain yang berani memangkas biaya dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) besar seperti Volkswagen dan Mercedes-Benz. 

Margin pendapatan sebelum bunga dan pajak pada bisnis inti BMW mencapai 5 persen pada periode yang sama, turun secara tahunan dari posisi 6,9 persen. Namun, realisasi ini tetap di atas perkiraan analis yang rata-rata memperkirakan 4,7 persen. 

Tarif dari AS dan Eropa untuk kendaraan listrik yang dirakit di China cukup memengaruhi pendapatan Mini—brand di bawah naungan BMW—sehingga memengaruhi margin BMW pada kuartal pertama. 

Outlook BMW sepanjang tahun ini mengekspektasikan penurunan moderat. Outlook yang dibuat perusahaan tidak memperhitungkan potensi kenaikan tarif dari AS dan tidak mengasumsikan perang di Timur Tengah akan berkepanjangan. 


(Nadya Kurnia)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement