Sebelumnya, pemerintah sempat mewacanakan peluncuran mandatori biodiesel B50 pada paruh kedua 2026. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa implementasi B50 akan sangat bergantung pada selisih harga antara minyak mentah dan CPO.
Dengan kondisi harga saat ini, arahan Presiden Prabowo Subianto adalah mempertahankan B40, sembari mempersiapkan infrastruktur dan kebijakan menuju B50.
Berdasarkan data Reuters per Selasa (13/1/2026), selisih harga kontrak berjangka CPO Malaysia pengiriman Februari 2026 terhadap kontrak berjangka ICE Brent untuk periode yang sama tercatat sekitar USD370 per ton. Angka tersebut melebar dibandingkan selisih sekitar USD300 per ton pada Oktober-November 2025.
Dari sisi kebutuhan, Kementerian ESDM pada Oktober 2025 memperkirakan, penerapan mandatori B50 akan membutuhkan sekitar 20,1 juta kiloliter biofuel berbasis minyak sawit per tahun.
Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan kebutuhan B40 yang diperkirakan sebesar 15,6 juta kiloliter. Sementara itu, realisasi pemanfaatan biodiesel domestik sepanjang 2025, saat B40 diimplementasikan, tercatat mencapai 14,2 juta kiloliter.