Dia menerangkan, urgensi elektrifikasi tersebut semakin terasa karena tingginya sensitivitas fiskal Indonesia terhadap gejolak geopolitik global, seperti konflik di Timur Tengah.
“Setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel dapat menambah beban APBN hingga Rp6,7 triliun,” katanya.
Selain itu, ujar Fabby, elektrifikasi juga berperan dalam menekan subsidi energi yang terus meningkat. Pada 2025, subsidi energi tercatat sebesar Rp203,4 triliun dan diproyeksikan naik menjadi Rp210,1 triliun pada 2026.
“Elektrifikasi transportasi dan rumah tangga menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menekan beban subsidi,” katanya.
(Dhera Arizona)