Lesunya pasar komersil di daerah luar Pulau Jawa, seperti di Kota Manado, memaksa pengembang melakukan manuver defensif. Rencana ekspansi komersil Andre di Manado yang mencakup tahap pertama seluas 5 hektare dan tahap kedua seluas 32 hektare terpaksa direm, di mana dia menyiasatinya dengan mengalihkan sekitar 1 hektare dari total lahan 5,6 hektare untuk membangun rumah subsidi terlebih dahulu demi menjaga arus kas.
Sempitnya margin keuntungan dan dropnya permintaan ini juga diperparah oleh tekanan ganda dari sisi pasokan. Bersamaan dengan melonjaknya suku bunga acuan, pengembang juga dihadapkan pada merangkaknya harga berbagai bahan baku material bangunan dasar.
Kenaikan biaya produksi ini dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan melonjaknya nilai dolar AS menjadi situasi makroekonomi yang sebenarnya telah diantisipasi Andre sejak awal, namun kini benar-benar memukul sektor riil secara nyata.
Selain terpukul oleh penurunan minat beli, para pengembang perumahan juga didera tekanan ganda berupa melambungnya harga berbagai bahan baku material bangunan dasar. Menghadapi situasi seperti ini, manajemen asosiasi meminta seluruh anggotanya agar tidak terburu-buru mengambil risiko finansial yang tinggi.
"Sebagai Ketua Umum Apernas Jaya, aku sampaikan ke teman-teman, hati-hati, kalau boleh jangan dulu berani membeli tanah, ya kan? Kita lihat dulu, kecuali kalau dengan cara pengikatan, DP bolehlah, tapi kalau untuk membayar tanah, jangan dulu," ujar Andre.
(Dhera Arizona)