IDXChannel - Gabungan perusahaan asal China berencana menanamkan modal hingga Rp1,4 triliun untuk membangun hilirisasi industri unggas di Indonesia.
Kepastian kerja sama ini tengah diupayakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.
Ketua Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menuturkan investasi sektor industri unggas ini bakal menambah alokasi dana bisnis dari Negeri Tirai Bambu ke Indonesia yang saat ini mencapai Rp80 triliun hingga 2025 di semua sektor.
Hilirisasi industri unggas yang akan dimulai di Provinsi Aceh itu akan mendukung transfer teknologi dan pengetahuan yang bermanfaat untuk industri lokal.
"Kita menyaksikan bahwa dari China bisa membantu kita untuk ketahanan pangan. Pada zaman sekarang itu membutuhkan suatu inovasi baru, terobosan baru, relasi baru untuk bisa menggerakkan ekonomi," kata Anindya dalam momen pertemuan dengan gabungan pengusaha industri unggas asal China di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Dalam momen sama, Ketua Kadin Aceh, Muhammad Iqbal, menekankan investasi dari gabungan pengusaha China bakal difokuskan pada produksi ayam dan produk turunannya.
Rencana investasi ini sudah dibicarakan sejak Maret 2026, saat rombongan Kadin Aceh melawat ke China.
"Kami sedang merencanakan investasi dengan menghadirkan investor skala besar di bidang unggas. Dengan total komitmen lebih dari Rp1,2 triliun, kami di Aceh telah menggelar karpet merah," kata Iqbal.
Selain unggas, investasi dari pengusaha China menyasar pembangunan fasilitas pengolahan susu yang bernilai 100 juta Renminbi (RMB) atau setara Rp252 miliar.
Seturut itu, pengusaha China juga ditargetkan membangun sarana peternakan yang terintegrasi, dengan nilai investasi 450 juta Renminbi atau setara Rp1,13 triliun.
Iqbal mengatakan bahwa kerja sama ini bakal berbuah peningkatan stok unggas yang bisa digunakan untuk kepentingan lokal maupun kebutuhan rantai pasok bagi program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Adapun Kadin menjadi investor atau memiliki sejumlah dapur MBG yang tersebar di Indonesia.
"Kami melihat masa depan di mana teknologi mutakhir China bersinergi sempurna dengan ketersediaan lahan dan sumber daya kami. Inilah wujud nyata dari win-win corporation," kata Iqbal.
Kadin memperkirakan kebutuhan akan telur di Aceh untuk program MBG mencapai 600 ribu butir per harinya. Sedangkan secara nasional, total kebutuhan telur sebesar 700 juta butir per bulan.
Di momen sama pula, pimpinan delegasi industri, Wang Zhongqiang menyatakan kesiapannya untuk membangun hilirisasi industri unggas, yang dapat dimulai pada komoditas ayam dan turunannya.
"Tujuan dari bisnis ini sebenarnya, mereka (pengusaha) berharap dapat mengekspor lebih banyak produk dari China ke pasar Indonesia. Selain itu, beberapa delegasi sebenarnya memiliki rencana untuk mendirikan pabrik di Indonesia," kata dia.
(NIA DEVIYANA)