Dia menyoroti perkembangan sejumlah indikator makroekonomi hingga Februari 2026. Inflasi tercatat mencapai sekitar 4,76 persen, sementara nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS.
Di sisi lain, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berada di kisaran 6,39 persen, sementara harga minyak dunia meningkat tajam.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia bukan kabar baik bagi Indonesia yang saat ini berstatus sebagai negara pengimpor minyak. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Kalau situasi seperti ini, ini akan berat bagi kita karena di APBN di Februari sudah Rp135 triliun. Ini angka yang sangat tinggi, yang sangat membebani ekonomi selama 2026," tuturnya.
Dia menambahkan, konflik global juga berdampak pada pelemahan rupiah yang berpotensi meningkatkan inflasi impor. Di sisi lain, inflasi dalam negeri sebenarnya sudah mulai meningkat bahkan sebelum konflik tersebut terjadi, terutama dari kenaikan harga bahan makanan.