Di tengah berbagai tekanan tersebut, Anindya menyebut ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh 5,29 persen pada kuartal II 2026. Namun, dia menilai diperlukan terobosan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen guna mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Dia juga menyoroti pentingnya memperkuat kinerja ekspor dan investasi dalam negeri. Menurutnya, ekspor Indonesia senilai USD282,9 miliar pada tahun lalu perlu ditingkatkan dengan memperluas pasar baru.
Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) tercatat tumbuh 20,5 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri (PMDN) turun 7,76 persen. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal agar penguatan dunia usaha domestik menjadi perhatian.
"Dan kami ingin garis bawahi 92,5 persen PDB Indonesia digerakkan oleh dunia usaha oleh 64 juta unit usaha," ujar Anindya.
Lebih lanjut, Anindya mengatakan Kadin telah melakukan benchmarking terhadap kamar dagang di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Singapura. Menurutnya, pengalaman negara-negara tersebut menunjukkan pentingnya dasar hukum yang kuat, keanggotaan yang jelas, kemandirian pendanaan, serta mandat fungsi dari negara.