IDXChannel – Peluncuran bahan bakar biodiesel B50 dinilai menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor solar. Kebijakan ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya mempercepat pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis sumber daya dalam negeri.
“Implementasi B50 merupakan langkah yang sangat penting karena semakin tinggi porsi biodiesel dalam campuran, semakin besar pula penurunan konsumsi solar berbasis fosil. Dampaknya tidak hanya mengurangi impor BBM, tetapi juga memperkuat ketahanan energi karena bahan bakunya berasal dari dalam negeri dan dapat diproduksi secara berkelanjutan,” ujar Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak, dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).
Ali menjelaskan bahwa kenaikan komposisi biodiesel dari B40 menjadi B50 bukan sekadar peningkatan 10 persen secara nominal. Dari sisi volume, kata dia, tambahan tersebut memberikan pengurangan konsumsi solar yang signifikan sehingga berpotensi menekan impor bahan bakar minyak yang selama ini masih dibutuhkan Indonesia.
Menurut Ali, pengalaman implementasi B20, B30, hingga B40 menjadi modal penting dalam penerapan B50. Berdasarkan hasil pengamatannya di berbagai terminal BBM dan fasilitas produsen biodiesel di Indonesia, alumnus UI ini menilai kesiapan infrastruktur pencampuran (blending) sudah cukup baik.
Dia menyebut Pertamina memiliki pengalaman dan kapasitas yang memadai untuk mengelola implementasi B50, meski peningkatan kapasitas dan kualitas fasilitas tetap perlu dilakukan seiring meningkatnya kebutuhan biodiesel.