Secara keseluruhan, total pasokan kumulatif gudang modern di wilayah ini mencapai sekitar 3 juta meter persegi per kuartal I-2026. Namun, pengembang cenderung lebih selektif, dengan tambahan pasokan yang diperkirakan hanya sekitar 186.000 meter persegi per tahun sepanjang 2026-2029.
Dari sisi permintaan, pasar logistik kini tidak lagi didominasi oleh penyedia logistik pihak ketiga (3PL) dan e-commerce. Permintaan juga datang dari sektor FMCG, elektronik, farmasi, hingga industri baru seperti kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Diversifikasi ini mencerminkan perubahan pola konsumsi serta strategi rantai pasok yang semakin kompleks di Indonesia.
Sebagai negara dengan nilai transaksi e-commerce terbesar di antara negara ‘tiger cub’ Asia Tenggara, Indonesia terus mendorong kebutuhan fasilitas logistik, mulai dari pusat distribusi, fulfillment center, hingga fasilitas last-mile di kawasan konsumsi utama.
Dengan tingkat hunian yang tinggi, pertumbuhan sewa yang stabil, serta permintaan yang kuat, pasar logistik Greater Jakarta diperkirakan tetap tumbuh stabil sepanjang 2026.