Dia menegaskan anjloknya harga TBS bukan disebabkan oleh melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO) global. Menurutnya, harga CPO dunia di Malaysia maupun Rotterdam justru sedang menguat.
“Harga CPO global lagi bagus. Kalau dirupiahkan bisa rata-rata Rp18 ribu, seharusnya harga dalam negeri sekitar Rp15.800. Tapi sekarang hanya sekitar Rp11 ribu. Jadi tidak masuk akal kalau harga TBS petani jatuh sedalam ini,” katanya.
Gulat menilai persoalan utama terjadi akibat bottleneck informasi dan munculnya spekulasi pasar setelah pengumuman kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Dia menyebut banyak pelaku usaha belum mendapatkan penjelasan utuh terkait mekanisme kebijakan tersebut sehingga memicu kepanikan pasar.
“Empat jam setelah pengumuman Presiden Prabowo pada 20 Mei lalu, harga langsung turun Rp400. Besoknya turun lagi Rp800, lalu terus sampai Rp1.500. Padahal ekspor tidak dihentikan dan implementasi penuh baru berlaku Januari 2027,” ujarnya.
Apkasindo meminta pemerintah segera memberikan penjelasan yang jelas mengenai implementasi DSI agar harga TBS tidak terus terpuruk akibat ketidakpastian informasi di pasar. Kendati demikian, Apkasindo menegaskan pihaknya tetap mendukung pembentukan DSI karena dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.