AALI
8425
ABBA
540
ABDA
0
ABMM
1250
ACES
1310
ACST
246
ACST-R
0
ADES
2720
ADHI
885
ADMF
7675
ADMG
218
ADRO
1400
AGAR
368
AGII
1395
AGRO
2300
AGRO-R
0
AGRS
246
AHAP
68
AIMS
342
AIMS-W
0
AISA
204
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3990
AKSI
422
ALDO
715
ALKA
292
ALMI
238
ALTO
320
Market Watch
Last updated : 2021/09/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
458.78
1.26%
+5.72
IHSG
6108.27
0.78%
+47.51
LQ45
862.18
1.23%
+10.45
HSI
24221.54
0.51%
+122.40
N225
29639.40
-0.67%
-200.31
NYSE
16184.50
0.1%
+16.33
Kurs
HKD/IDR 1,827
USD/IDR 14,240
Emas
814,120 / gram

Petinggi Pelindo III Bali Jadi Tersangka Penggelapan Dana Regasifikasi LNG

ECONOMICS
Chusna/Kontributor
Rabu, 21 April 2021 11:04 WIB
Petinggi Pelindo III Bali jadi tersangka penggelapan dana regasifikasi LNG Rp40 miliar.
Petinggi Pelindo III Bali jadi tersangka penggelapan dana regasifikasi LNG. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Tiga petinggi PT Pelindo III ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Bali. Mereka diduga menggelapkan dana regasifikasi proyek pembangkit listrik dengan nilai cukup fantastis, Rp40 miliar. 

"Ada tiga orang yang sudah ditetapkan menjadi tersangka," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Bali Kombes Pol Yuliar Kus Nugroho, Selasa (20/4/2021). 

Tersangka pertama yaitu Direktur Teknik PT Pelindo III Kokok Susanto. Dua tersangka lagi adalah bos PT Pelindo Energi Logistik (PEL), anak perusahaan PT Pelindo III, yaitu Wawan Sulistiawan yang menjabat Direktur Utama dan Irsyam Bakri selaku General Manager Regional Bali Nusa Tenggara. 

Ketiga petinggi BUMN itu telah ditetapkan sebagai tersangka sejak 31 Maret 2021. Meski sudah hampir sebulan, mereka sampai saat ini belum dijebloskan ke sel tahanan. 

Ketiganya dikenakan pelanggaran pasal 372 junto pasal 55 dan 56 KUHP. Penyidik masih menelusuri aliran dana yang digelapkan dan siapa saja penerimanya. 

Yuliar menjelaskan, kasus ini bermula dari proyek penyediaan infrastruktur LNG untuk pembangkit listrik milik PT Indonesia Power (IP), anak perusahaan PT PLN. 

Proyek yang berlokasi di dermaga selatan Pelabuhan Benoa itu dimulai tahun 2016. PT IP kemudian menggandeng PT PEL untuk merealisasikan proyek itu. 

Untuk pengadaan, PT PEL kemudian  menenderkan proyek kepada PT Benoa Gas Terminal (BGT) untuk membangun kapal floating storage unit (FSU) bernama Lumbung Dewata. 

Kapal sepanjang 184,7 meter tersebut berfungsi untuk penyimpanan dan mengolah ulang (regasifikasi) LNG yang kemudian didisalurkan ke pembangkit listrik milik PT IP.

Setiap bulannya, PT IP membayar biaya regasifikasi sebesar Rp4 miliar. Dari situ, PT BGT memperoleh keuntungan sebanyak Rp2 miliar setiap bulannya. 

Pada 2019, Kokok yang saat itu menjabat Direktur Utama PT PEL memerintahkan Irsyam Bakri untuk mengambil alih kapal Lumbung Dewata dengan dalih akan ada pergantian kru. Hal itu ditindaklanjuti oleh 
Wawan Sulistiawan dengan menempel stiker PT PEL di kapal itu. 

PT BGT yang keberatan dengan ulah PT PEL itu akhirnya melapor ke Pola Bali, Januari 2021 lalu. "Dengan pengambilalihan sejak 2019, PT BGT mengalami kerugian hingga Rp40 miliar," ungkap Yuliar. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD