Selain menekan impor, kata dia, proyek ini juga menciptakan lonjakan nilai tambah yang signifikan. Dari harga bauksit mentah sekitar USD40 per metrik ton, nilai produk meningkat menjadi sekitar USD400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina.
Bahkan, melonjak hingga USD2.800–3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium. Secara keseluruhan, MIND ID mencatat peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat melalui rantai hilirisasi ini.
Proyek hilirisasi MIND ID ini juga menjadi bagian dari implementasi agenda transformasi ekonomi nasional yang menekankan penguatan sektor riil, pembangunan industri berdaya saing, serta pengurangan ketergantungan impor secara bertahap.
Kehadiran fasilitas pengolahan terintegrasi di Mempawah diharapkan memberikan kepastian pasokan bahan baku bagi industri manufaktur nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Fasilitas yang diresmikan mencakup smelter aluminium baru berkapasitas 600.000 metrik ton per tahun serta Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun. Proyek ini dirancang untuk memperkuat ketahanan mineral nasional sekaligus menjamin pasokan bahan baku bagi industri manufaktur dalam negeri.
(Dhera Arizona)