"Pertumbuhan kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara, bahkan di G20 kita berada di peringkat kedua setelah India. Jadi, prospek ekonomi kita kuat dan pelemahan rupiah belum memberikan efek pelemahan pada aktivitas ekonomi kita," katanya di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5/2026).
Selain faktor domestik, Purbaya juga menyoroti potensi membaiknya kondisi global dalam beberapa bulan ke depan. Dia menilai perkembangan geopolitik yang lebih kondusif berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
"Dan saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan, situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang, yang berarti gangguan yang sampai batas tertentu melemahkan rupiah juga akan hilang, sehingga itu berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan juga rupiah yang lebih kuat," lanjut Purbaya.
Dia juga memastikan pemerintah telah mengantisipasi depresiasi rupiah dalam kaitannya dengan APBN, sehingga sejauh ini masih berada dalam batas yang dikelola.
"Dari sisi anggaran, kami telah memperhitungkan depresiasi rupiah mendekati tingkat saat ini, jadi anggaran saya masih aman meskipun Rupiah melemah ke tingkat sekarang. Secara teoritis, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan?" kata Purbaya.