Selain mineral, sektor perkebunan dan kehutanan juga mencatatkan kontribusi besar dengan total investasi Rp144,5 triliun. Investasi terbesar berasal dari kelapa sawit Rp62,8 triliun dan kayu log Rp62,2 triliun, disusul karet Rp12,9 triliun serta komoditas lain seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel sebesar Rp6,6 triliun.
Hilirisasi sektor ini diarahkan untuk memperkuat industri turunan seperti oleokimia, biomaterial, dan energi terbarukan.
"Tahun ini saya perkirakan sektor perikanan dan perkebunan akan tumbuh lebih tinggi dapat investasi untuk hilirisasi," kata Rosan.
Sektor minyak dan gas bumi mencatatkan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp60,0 triliun, yang terdiri dari minyak bumi Rp41,7 triliun dan gas bumi Rp18,3 triliun, terutama untuk pengembangan kilang, petrokimia, dan fasilitas pengolahan lanjutan. Sementara itu, sektor perikanan dan kelautan membukukan investasi Rp6,4 triliun, mencakup pengolahan komoditas seperti ikan tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, tilapia, hingga garam.
Dari sisi sumber pendanaan, investasi hilirisasi masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dengan porsi 73,5 persen atau Rp429,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) berkontribusi 26,5 persen atau Rp154,5 triliun. Hal ini menunjukkan besarnya minat investor global terhadap proyek-proyek hilirisasi, khususnya di sektor mineral dan energi.