Untuk negara asal PMA, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai USD7,9 miliar, diikuti Hong Kong (RRT) USD6,2 miliar, China USD4,8 miliar, Malaysia USD3,0 miliar, dan Amerika Serikat USD1,6 miliar. Masuknya investor dari Asia Timur dan Asia Tenggara menegaskan kuatnya integrasi rantai pasok industri pengolahan Indonesia dengan pasar regional dan global.
Rosan memaparkan, dari sisi wilayah, investasi hilirisasi masih terkonsentrasi di luar Pulau Jawa. Realisasi di luar Jawa mencapai Rp415,4 triliun atau 71,1 persen, sementara Pulau Jawa menyumbang Rp168,7 triliun atau 28,9 persen.
Tingginya porsi luar Jawa mencerminkan kuatnya arus investasi di kawasan berbasis sumber daya alam, terutama di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.
Sementara untuk lokasi, lima besar daerah tujuan investasi hilirisasi sepanjang 2025 didominasi kawasan industri berbasis mineral. Sulawesi Tengah menempati peringkat pertama dengan Rp110,0 triliun, disusul Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun, dan Jawa Timur Rp36,7 triliun. Dominasi Sulawesi Tengah dan Maluku Utara tidak terlepas dari masifnya pembangunan smelter dan industri pengolahan nikel.
(kunthi fahmar sandy)