Dari sisi implementasi, tantangan utama terletak pada integrasi antara pasokan energi bersih dan kebutuhan industri. Hal ini diperjelas oleh Direktur INDEF GTI, Imaduddin Abdullah, yang menyebut percepatan target PLTS 100 GW dalam tiga tahun sangat bergantung pada kepastian penyerapan listrik dan konektivitas ke kawasan industri.
“Pendekatan REZs menjadi penting karena mengintegrasikan lokasi sumber energi, jaringan, kebutuhan industri, dan investasi sejak awal, sehingga transisi energi tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucap Imaduddin di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
Terlebih lagi, Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis Kementerian ESDM, Andriah Feby Misna, menyebutkan tingginya minat industri terhadap energi surya belum sepenuhnya terhubung dengan regulasi dan sistem yang ada, sehingga REZs dapat menjadi solusi percepatan integrasi lintas sektor.
Hal ini karena pemerintah dan pelaku industri juga menyoroti pentingnya peran kawasan industri sebagai anchor demand.
Dari sistem kelistrikan, VP Perencanaan Sistem Ketenagalistrikan, PT PLN (Persero), Arif Sugiyanto, menyampaikan bahwa kendala utama terletak pada perencanaan jaringan dan ketersediaan lahan. Integrasi kawasan melalui REZs disebut dapat menciptakan proyek yang lebih bankable dengan menghubungkan permintaan dan pasokan sejak awal.