AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
0.00
-100%
-17099.21
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
814,092 / gram

Ribuan Kapal Vietnam hingga China Banyak Terobos Wilayah RI

ECONOMICS
Kiswondari/Sindo
Jum'at, 17 September 2021 09:19 WIB
Badan Keamanan Laut (Bakamla) mengungkap ada ratusan bahkan ribuan kapal berbendera Vietnam hingga China menerobos masuk wilayah Indonesia.
Ribuan Kapal Vietnam hingga China Banyak Terobos Wilayah RI (FOTO: Ilustrasi/MNC Media)

IDXChannel - Badan Keamanan Laut (Bakamla) mengungkap ada ratusan bahkan ribuan kapal berbendera Vietnam hingga China menerobos masuk wilayah Indonesia, khususnya di Laut Natuna Utara saat dilakukan pengamatan secara langsung dari udara.

Hal tersebut terungkap dalam rapat Bakamla dengan Komisi I DPR. Menanggapi hal ini, Anggota Komisi I DPR, Sukamta menyebut keberadaan kapal-kapal asing yang masuk wilayah Indonesia secara ilegal, tidak hanya merugikan secara ekonomi tetapi juga bisa membahayakan kedaulatan wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah harus serius untuk meningkatkan kapasitas patroli keamanan wilayah laut terluar Indonesia.

“Terutama di wilayah Laut Natuna Utara, perlu ada konsentrasi yang lebih besar untuk melakukan patroli. Wilayah ini berdekatan dengan zona sengketa di laut China Selatan antara China dan negara-negara Asean. Beberapa kali juga terjadi insiden kapal coast guard China masuk wilayah Indonesia. Jika Indonesia tidak bisa menujukkan kekuatan patroli keamanan yang memadai, pihak asing akan leluasa mengobok-obok wilayah Indonesia,” kata Sukamta dikutip Jumat (17/9/2021).

Ia juga mengusulkan tiga pendekatan dalam mengatasi persoalan tersebut. Pertama, dengan memperkuat kekuatan kapal patroli Bakamla, karena faktanya hari ini Bakamla hanya memiliki 10 kapal untul patroli.

“Bakamla menyebut hanya memiliki 10 kapal untuk patroli, ini tentu sangat minim untuk menjaga wilayah laut Indonesia yang luas. Industri pertahanan milik Indonesia bisa lebih digiatkan untuk memproduksi kapal-kapal jenis coast guard. Ini untuk mendukungan cakupan patroli yang selama ini dilakukan,” ujarnya.

Kedua, Sukamta melanjutkan, perlu diperkuat koordinasi keamanan laut, dengan melibatkan berbagai kekuatan yang dimiliki, termasuk dengan TNI dan lembaga negara lain yang terkait.

“Kerja sama yang telah dilakukan Bakamla dengan TNI AU untuk melakukan patroli udara ini bagus dan perlu diperkuat. Bakamla juga bisa bekerja sama dengan LAPAN untuk memperkuat pemanfaatan teknologi penginderaan melalui satelit dan udara,” usulnya.

Terakhir, legislator Dapil Yogyakarta ini menambahkan, pendekatan untuk mengamankan wilayah Laut Indonesia bisa dengan mencontoh strategi China mengerahkan milisi laut dalam sengketa di Laut China Selatan.

“Indonesia punya banyak nelayan handal, mereka bisa dilibatkan untuk ikut mengamankan wilayah Laut Natuna Utara. Pengerahan nelayan-nelayan Indonesia di wilayah yang rawan dimasuki pihak asing, bisa ikut membantu memberikan informasi ke Bakamla. Dalam hal ini pemerintah bisa memberikan fasilitasi berupa alat monitor dan BBM kepada nelayan-nelayan Indonesia,” tutup Sukamta. (RAMA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD