"Semuanya begitu, di semester I tekanannya cukup tinggi," kata Suahasil.
Dia menduga tekanan pada semester I dipengaruhi kuat oleh perlambatan aktivitas ekonomi nasional dan global yang berdampak pada profitabilitas korporasi (PPh Badan) serta daya beli masyarakat (PPN).
Meskipun secara tahunan angka pertumbuhan masih negatif, tren positif pada semester II memberikan sinyal bahwa fondasi ekonomi mulai menguat kembali.
Realisasi pajak yang berada di angka 87,6 persen ini menjadi salah satu penyebab utama melebarnya defisit APBN 2025 hingga ke angka 2,92 persen, sebagaimana dipaparkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya.
(Dhera Arizona)