AALI
8050
ABBA
222
ABDA
0
ABMM
805
ACES
1340
ACST
222
ACST-R
0
ADES
1825
ADHI
865
ADMF
8100
ADMG
154
ADRO
1290
AGAR
404
AGII
1190
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
300
AHAP
65
AIMS
374
AIMS-W
0
AISA
208
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
585
AKRA
3130
AKSI
476
ALDO
735
ALKA
234
ALMI
242
ALTO
374
Market Watch
Last updated : 2021/06/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
462.88
0.99%
+4.52
IHSG
6087.84
1.53%
+91.59
LQ45
868.47
1.11%
+9.54
HSI
28309.76
-0.63%
-179.24
N225
28884.13
3.12%
+873.20
NYSE
16411.98
1.66%
+268.03
Kurs
HKD/IDR 1,852
USD/IDR 14,400
Emas
823,703 / gram

Sri Mulyani Ungkap Ancaman Ekonomi yang Lebih Dahsyat dari Covid-19

ECONOMICS
Rina Anggraeni/Sindonews
Jum'at, 11 Juni 2021 13:41 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani meyebutkan perubahan iklim merupakan ancaman besar dibandingkan Covid-19.
Menteri Keuangan Sri Mulyani meyebutkan perubahan iklim merupakan ancaman besar dibandingkan Covid-19. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Perubahan iklim atau climate change punya dampak besar bagi dunia. Menteri Keuangan Sri Mulyani meyebutkan perubahan iklim merupakan ancaman besar dibandingkan Covid-19.

Hal ini dikarenakan, perubahan iklim bisa menyebabkan banyaknya bencana alam di beberapa negara serta bisa membahayakan ekonomi Indonesia

"Dampak climate change akan dahsyat dari Covid-19  dan setiap negara harus menyiapkan  dan berkontribusi. Salah satu studi adalah climate change saat ini mereset kesenjangan emisi," kata Sri Mulyani dalam video virtual, Jumat (11/6/2021).

Kata dia, dunia tengah dihadapkan pada dua bencana sekaligus, yakni pandemi Covid-19 dan risiko perubahan iklim. Semua negara juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk menangani persoalan tersebut karena dampak perubahan iklim tidak mengenal batas negara.

" Ini sama kayak Covid-19 yang mana juga wara wiri di setiap negara begitu juga climate change," jelasnya.

Dia menambahkan berdasarkan  program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Programme/UNEP) tentang suhu bumi saat ini yang meningkat 1,1 derajat celcius dibandingkan dengan kondisi pra-industrialisasi dan meningkat 3,2 derajat celcius pada 2020.

Di Indonesia, dampak suhu yang lebih hangat itu misalnya terlihat dari meningkatnya permukaan air laut karena es di kawasan kutub terus mencair. "Konsekuensinya luar biasa, yaitu di berbagai belahan dunia kita melihat fenomena yang katastropikal," tandasnya. (TIA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD