Direktur Utama ID Food, Ghimoyo juga mengakui kualitas gula produksi BUMN saat ini belum optimal. Hal tersebut dipengaruhi kondisi pabrik gula yang sudah tua.
Senada dengan itu, akademisi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yuvensius Sri Susilo, menilai kualitas gula BUMN masih kalah dibandingkan pabrik swasta.
“Saya sependapat dengan hal tersebut. Hal tersebut terjadi karena faktor pabrik gula mesinnya sudah tua, sehingga kualitas produk gula tidak optimal juga berwarna putih kusam atau kuning. Di sisi lain, gula pabrik swasta warna lebih putih,” kata Sri Susilo, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, solusi yang perlu ditempuh mencakup modernisasi mesin dan infrastruktur pabrik, penguatan budidaya tebu, serta restrukturisasi manajemen. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas industri gula nasional.
“Hal itu perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi yang dapat mendorong Swasembada Gula,” tuturnya.