Kendala berikutnya adalah keterbatasan lahan. Menurut Faisol, banyak pabrik rafinasi berada di kawasan dekat pelabuhan, seperti di Banten, yang tidak memiliki cukup lahan untuk budidaya tebu. Selain itu, faktor logistik juga menjadi tantangan karena jarak antara kebun dan pabrik berpotensi menurunkan kualitas tebu jika tidak segera digiling.
“Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga rendemen tetap optimal,” ujar dia
Sebagai informasi, pemerintah menargetkan produksi gula konsumsi mencapai 3 juta ton pada 2026. Upaya ini dilakukan melalui konsolidasi industri oleh holding pangan ID Food bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) yang mengintegrasikan 36 pabrik gula di berbagai wilayah.
Program hilirisasi perkebunan juga terus didorong, termasuk peremajaan tebu (bongkar ratoon) serta pembukaan lahan baru seluas 200 ribu hektare pada 2025-2026. Kebijakan ini diperkuat melalui Perpres Nomor 40 Tahun 2023 tentang percepatan swasembada gula nasional dan penyediaan bioetanol.
Selain itu, pemerintah menetapkan harga acuan gula sebesar Rp14.500 per kilogram di tingkat produsen dan Rp17.500 per kilogram di tingkat konsumen untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
(DESI ANGRIANI)