Di samping itu, Teguh juga mendapatkan tambahan pendapatan dari bagi hasil tetes sebesar tiga persen per kuintal tebu, yang menambahkan Rp11.100.000.
Dengan demikian, total pendapatan Teguh mencapai Rp144.079.000. Setelah dikurangi biaya sewa lahan tanam, pemeliharaan, dan ongkos tebang muat angkut, Teguh masih mengantongi keuntungan bersih sebesar Rp62.119.000 per hektare per tahun.
"Dari penghasilan itu, sebagian buat operasional kebun, buat keperluan sehari-hari, dan sisanya buat perluasan sewa," ungkap Teguh.
Prestasi ini membawa perubahan signifikan bagi kehidupan Teguh. Kini, pria 39 tahun itu bisa hidup dengan mapan. Sebagai rasa syukur, dari hasil penjualan gula pertamanya, Teguh mendonasikan sebuah kulkas kepada masjid setempat.
"Itu waktu pertama kali panen produktif. Dan alhamdulillah saat ini setiap panen saya usahakan untuk bisa membantu masyarakat sekitar," papar Teguh.